Direktur Komunikasi Unhas Jelaskan Kasus Covid-19 yang Menerpa Sejumlah Dosen Unhas

oleh -16 views
Direktur Komunikasi Unhas, Ir. Suharman Hamzah, Ph.D. | Merahnews.com - Humas Unhas

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR – Sejumlah Dosen dan Tenaga Pendidik Universitas Hasanudin (Unhas) dilaporkan terpapar dan terinfeksi Covid-19. Kasus ini sempat menyita perhatian publik lantaran Unhas dinilai sebagai Universitas pertama di Indonesia yang mengumumkan secara terbuka soal Dosen dan Tenaga Pendiiknya yang terpapar Covid-19.

Menyikapi besarnya perhatian publik terhadap kasus ini, sore tadi, Senin (13/7/2020) Direktur Komunikasi Unhas, Ir.Suharman Hamzah, PhD. HSE memaparkan beberapa hal terkait kasus covid-19 dalam lingkup Unhas. Berikut paparannya:

Izinkan saya berbagi informasi tentang apa yang terjadi dan apa yang UNHAS lakukan terkait dosen dan tenaga kependidikan Unhas yang mendapat cobaan terpapar Covid-19 dengan harapan bisa menjadi bahan pembelajaran dan peringatan untuk kita semua.

Apa yang terjadi di UNHAS?

Sebagaimana informasi yang ramai diberitakan di media bahwa sejumlah dosen dan pegawai UNHAS yang terkonfirmasi Positif Covid-19 termasuk di antaranya beberapa pimpinan adalah benar adanya.

Namun perlu kami sampaikan ada sejumlah nama yang disebutkan sesungguhnya tidak terkonfirmasi Positif Covid-19.

Sejak awal UNHAS mendorong dosen dan pegawai menyampaikan jika dirinya terkorfirmasi Positif Covid-19. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk terbuka mengumumkan agar segera dapat dilakukan tracing.

Melakukan pelacakan sembari mengetahui kemungkinan menyebarkan ke orang lain.

Kami sadar sepenuhnya bahwa kejujuran dan keterbukaan adalah salah satu kunci utama dalam menghadapi Pandemi Covid-19.

Dari identifikasi data terhadap sivitas akademika yang terkonfirmasi positif, ada setidaknya tiga pola utama yang didapatkan:

Pertama, mereka yang menjalankan tugas profesi sebagai tenaga kesehatan dan karena tugasnya menjadi bagian dari Gugus Tugas (GT) Covid-19 UNHAS dan membantu GT Kota Makassar dan GT Provinsi Sulsel sehingga secara regular melakukan swab test.

Kedua, mereka yang kemungkinan terpapar dari lingkungan keluarga terutama yang Suami/Istri/Anak/Mantu adalah tenaga kesehatan. Hal ini terkonfirmasi pada beberapa guru besar UNHAS.

Ketiga, ada kemungkinan (masih dugaan) yang terpapar dari kondisi aerosol di tempat kerja yang sebelumnya tidak dianggap hal yang menjadi penyebab penyebaran Covid-19. Hal ini yang mungkin terjadi pada pimpinan Unhas yang terkonfirmasi Covid-19.

Apa yang UNHAS lakukan?

UNHAS melakukan langkah yang berani dan terbuka melakukan Rapid Test untuk seluruh Tenaga Kependidikan dan Dosen. Terlepas dari kontroversi dan keakuratan rapid test, langkah ini dilakukan sebagai upaya konsistensi UNHAS menjadi bagian dari penyelesaian masalah dan tentunya membantu dalam memutus penyebaran Covid-19.

Rapid Test tahap pertama dilakukan untuk Tenaga Kependidikan yang dilaksanakan 16-18 Juni 2020. Ada lebih 2000 tenaga kependidikan yang ikut rapid test.

Ditemukan ada beberapa yang reaktif dan dilanjutkan Swab Test kepada mereka yang reaktif. Sebanyak 25 Tenaga Kependidikan terkonfirmasi Positif.

Mereka selanjutnya melakukan isolasi mandiri di rumah atau di hotel yang disiapkan. Alhamdulillah ke-25 orang tersebut semuanya telah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Rapid Test tahap kedua dilakukan untuk dosen yang dilaksanakan 8-10 Juli 2020. Diikuti oleh lebih dari 1000 dosen. Yang ditemukan Reaktif adalah 18 orang dan telah menjalani Swab Test. Saat ini kami menunggu hasil swab test tersebut.

Selain itu, UNHAS juga memberikan fasilitas Swab Test kepada Dosen dan Tenaga Kependidikan yang memiliki kontak dengan yang terkonfirmasi atau yang memiliki riwayat kesehatan yang memerlukan penanganan lanjut. Ini dilakukan pada Laboratorium BSL-2 UNHAS yang memiliki izin dari Kemnterian Kesehatan.

UNHAS sadar sepenuhnya bahwa menyampaikan secara terbuka sivitas akademika yang terkonfirmasi Positif Covid-19 memiliki resiko terhadap reputasi institusi UNHAS.

Demikian pula halnya dengan melakukan rapid test dan swab test secara besar-besaran mempunyai kemungkinan jumlah yang terkonfirmasi makin banyak.

Namun, yang lebih penting saat ini adalah kejujuran dan keterbukaan. UNHAS ingin menjadi bagian dari penyelesaian masalah sesuai dengan kapasitas dan kapablitas yang UNHAS miliki.

Dalam kondisi Pandemi seperti ini tidak ada pihak yang tidak ingin masalah Covid-19 ini berakhir. Demikan juga bahwa tidak ada pihak yang merasa lebih berpengalaman dari yang lainnya.

Yang sangat dibutuhkan adalah kita harus saling mendukung dan saling menyemangati. Kami berharap kita semua melihat secara utuh apa yang dilakukan UNHAS dari hulu ke hilir. Tidak langsung hanya melihat pada jumlah yang terkomfirmasi.

Mengutip dari para guru kita di kampus ini: Mari menghindari saling menyalahkan, meremehkan atau tidak menghargai upaya masing-masing pihak.

Mengutip Kompas (10/07/2020): Sejauh ini, UNHAS menjadi satu-satunya kampus yang secara terbuka mengumumkan hasil test covid-19 yang dilakukan para dosen muapun pegawai yang bekerja di lingkungan kampus.

Sejumlah langkah akan terus diupayakan termasuk menyediakan UNHAS Home Care untuk sivitas akademika. Semoga berkenan untuk senior dan yunior alumni UNHAS dimanapun berada.

Salah satu Dosen Unhas yang dinyatakan Reaktif hasil Rapid Test-nya mengaku sangat terharu atas perhatian Unhas terhadap dirinya.

“Saya terharu sekali atas perhatian Unhas pada saya. Saya tak pernah membayangkan akan mendapat perhatian seperti itu. Bayangkan, saat saya dalam keadaan cemas, tiba-tiba saya dihubungi oleh sejumlah jajaran pimpinan dan menanyakan keadaanku & memberikan motivasi. Itu artinya mereka peduli dan memperhatikan keadaanku. Padahal saya ini kan dosen biasa ji,” ujar sang Dosen. MERAHNEWS.COM | MM