ODP dan OTG Covid-19 di Makassar Dikarantina di Hotel Berbintang

oleh -23 views
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Prof.dr.Budu, Ph.D, Sp.M. Sumber foto : Humas Unhas

MERAHENEWS.COM | MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengambil berbagai kebijakan terukur dan sistematis untuk menghentikan sebaran virus. Salah satunya adalah menyediakan hotel berbintang untuk lokasi karantina khusus bagi OTG (Orang Tanpa Gejala) dan ODP (Orang Dalam Pemantauan) serta orang-orang yang konfirmasi positif tanpa gejala dan secara sosial mereka tidak layak untuk isolasi mandiri

Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini merupakan bagian dari Program Rekreasi Duta Covid-19.

Dekan Fakultas Kedokteran Unhas yang juga anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Sulawesi Selatan, Prof. dr. Budu, Sp.M(K), M.Med.Ed., Ph.D menjelaskan bahwa strategi ini diharapkan dapat memutus mata rantai penularan dan penyebaran penyakit Covid-19 di Sulawesi Selatan.

“Program ini dilakukan terpusat di Makassar, diharapkan dapat mencegah penyebaran dan muculnya episentrum baru kabupaten/kota lain. Selain itu strategi ini terbukti efektif di negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan, tanpa harus melakukan lockdown atau karantina wilayah,” kata Prof. Budu.

Koordinator Program Rekreasi Duta Covid-19, Husni Thamrin, menjelaskan bahwa konsep karantina terpusat bukanlah hal baru dalam menangani wabah dan pandemi penyakit menular, termasuk dalam penanganan Covid-19.

“Karantina terpusat merupakan intervensi dengan prinsip memisahkan yang sakit dari yang sehat. Secara umum, konsepnya adalah merawat mereka yang positif, suspek dan kontak erat di fasilitas yang disiapkan,” kata Husni, Kamis (30/4/2020).

Tujuan program ini adalah agar orang yang terinfeksi tidak menularkan kepada yang sehat. Selain itu, mereka akan mendapatkan perawatan dini, sehingga dapat lansung dirujuk dan ditangani jika kondisi mereka mengalami gejala.

Karantina terpusat merupakan alternatif dari isolasi mandiri. Husni Thamrin, yang juga merupakan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan ini menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang membuat isolasi mandiri kurang efektif di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

“Pertama, isolasi mandiri bersifat sukarela. Suspek dan orang yang memiliki kasus tanpa gejala dapat berjalan-jalan dan menularkan ke masyarakat umum. Kedua, isolasi mandiri tidak efektif di kawasan padat penduduk, dimana satu rumah dapat dihuni oleh dua sampai tiga kepala keluarga. Ketiga, potensi orang muda tanpa gejala yang membawa virus bercampur dengan orang tua, kelompok rentan dan yang memiliki penyakit penyerta,” kata Husni.

Kelebihan program ini adalah pemantauan oleh tim medis selama 24 jam terhadap OTG dan ODP, dukungan psikologis, serta kontrol diet yang ketat untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta karantina, sehingga lebih cepat sembuh.

Husni juga menambahkan bahwa standar keselamatan terhadap tenaga medis dan petugas non medis, seperti pegawai hotel, diterapkan sangat ketat. Semua petugas dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) sesuai spesifikasi dan level tugas masing-masing.

“Dalam hal pencegahan dan pengendalian infeksi, semua prosedur mengikuti SOP dari WHO. Semua petugas termasuk pegawai hotel sebelum bertugas dilakukan rapid test dan diulang setiap 10 hari untuk menjaga keselamatan mereka,” kata Husni.

Peserta yang masuk discreening dengan rapid test sebelum mengikuti program ini. Algoritma pemeriksaan lab dibuat sesuai alur dari Kementerian kesehatan. Swab PCR akan dicek menjelang akhir masa karantina. Penempatan kamar akan dilakukan berdasarkan status dari peserta serta hasil pemeriksaan laboratoriumnya.

“Saat ini, baru Swiss bell yang beroperasi. Jika Swiss Bell penuh maka, Pemprov telah menyiapkan Hotel Four Points yang siap digunakan. Program ini sepenuhnya gratis, tidak ada beban biaya kepada peserta karantina,” kata Husni.MERAHNEWS.COM |IR/MM