Puang Tuan, Penyebar Agama Islam di Sinjai Timur

oleh -71 views
Masjid Syekh Ibrahim Rahmat di Bontopale. Merahnews.com | Syatrawati

MERAHNEWS.COM | Sinjai – Sejarah penyebaran agama Islam di Sinjai Timur tak bisa lepas dari nama Puang Tuan. Puang Tuan adalah seorang ulama yang pertama menyebarkan agama Islam di Bontopale, sebuah pebukitan tak jauh dari pesisir pantai di kelurahan Samataring.

Menurut sumber yang ada, Puang Tuan sebenarnya hanyalah sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat setempat sebagai penghargan dan rasa hormat. Nama asli Puang Tuan adalah Syekh Ibrahim Rahmat. Beliau merupakan keturunan Arab
yang lahir di Sumatra dan melakukan pengembaraan di beberapa daerah di Indonesia hingga sampailah di Sulawesi Selatan yaitu pulau Burung Lohe.

Setibanya di tempat ini, Puang Tuan berusaha menyebarkan Islam. Sayangnya tidak direspon positif oleh masyarakat sekitar. Akhirnya, Puang Tuan terpaksa meninggalkan pulau tersebut menuju pesisir pantai Pangasa Sinjai Timur yang merupakan daerah kerajaan Bulo-Bulo.

Diperkirakan Puang Tuan bermukim di Bontopale dan menyebarkan Agama Islam pada tahun 1620 atas izin atas Puatta Bulo-Bulo. Saat menyebarkan Agama Islam, Syekh Ibrahim Rahmat dibantu seorang ahli agama bernama Guru Cambang. Guru Cambang pernah diutus oleh Syekh Ibrahim untuk mengislamkan salah seorang raja Kerajaan Mampu di Bone.

Dalam upayanya menyebarkan agama Islam di Bontopale, Puang Tuan mendirikan masjid. Masjid tersebut dijadikan sebagai
pusat penyebaran Islam, dengan jalan berdakwah, membuka pengajian
keagamaan mengenai aqidah dan tasawuf. Puang Tuan memberikan pengajian biasanya dilakukan selepas salat Magrib.

Banyak cerita menarik yang dituturkan secara turun temurun oleh warga mengenai sosok Puang Tuan. Puang Tuan memiliki banyak kelebihan yang kadang di luar jangkauan nalar manusia. Salah satunya adalah mampu menyeberangi Teluk Bone hanya  dengan berpijak pada sebuah batu berdiameter sekitar 50 sentimeter. Batu tersebut  konon sering digunakan oleh Syekh Ibrahim untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga saat ini, batu bekas pijakan Syekh Ibrahim masih terdapat di Bontopale. Lokasinya sekitar 70 meter dari masjid Syekh Ibrahim Rahmat dan berdampingan dengan sumur tua yang pernah digali oleh Puang Tuan.

Sumur tua berukuran 3×3 meter itu tak pernah kering meski musim kemarau. Sumur tua itu dirawat oleh warga setempat dan dijadikan sumber air bersih dan masih digunakan oleh sebagian besar warga Bontopale. Ada belasan mesin pompa air dengan pipanya yang menancap di bibir sumur yang sudah diberi pembatas tembok tersebut.

Selain tak pernah kering, di sumur tersebut pernah muncul ikan belut berukuran besar atau disebut Masapi oleh warga setempat. Belut tersebut hanya muncul sekali dan diwaktu tertentu.

Makam Syekh Ibrahim Rahmat (Puang Tuan). Merahnews.com | Syatrawati

Puang Tuan wafat pada hari Kamis pagi tanggal 6 Syawal tahun 1712 Masehi, di kampung Bonto Pale dalam usia 105
tahun dalam perhitungan tahun Hijriah atau 102 tahun dalam perhitungan tahun
Masehi. Beliau dimakamkan tepat di samping masjid tempatnya berdakwah.

Pada saat hari raya idul fitri dan idul adha, makam Syekh Ibrahim Rahmat sering dikunjungi masyarakat dari Burung Lohe, Pangkep, Pinrang, Bone, dan masyarakat daerah sekitar Kabupaten Sinjai.

Atas kebaikan dan jasanya dalam menyebarkan agama Islam di Bontopale, mesjid yang beliau bangun diberi nama Masjid Syekh Ibrahim Rahmat.

Merahnews.com | Syatrawati/Aliyah Triana