Dibalik Kilauan Songkok Recca / Songkok To Bone

oleh -28 views
Proses pembuatan Songkok Recca. Merahnews.com | lokadata.id

MERAHNEWS.COM | BONE — Songkok atau peci merupakan alat tutup kepala yang  digunakan sebagai identitas yang melambangkan mahkota kehormatan bagi sebagian besar kaum lelaki. Selain mencerminkan kegagahan seseorang, songkok juga kerap dijadikan sebagai simbol identitas adat dan kultur suatu daerah. Satu contohnya adalah songkok recca.

Di Kabupaten Bone, terdapat songkok yang dulunya hanya boleh dipakai oleh darah biru saja. Kabupaten yang terdapat di Awangpone, Sulawesi Selatan itu, memiliki songkok yang bernama recca. Konon katanya, dengan songkok ini kharisma pemakainya akan terlihat. Namun seiring berjalannya waktu, semua golongan bisa mengenakan songkok peninggalan raja ini.

Songkok Recca atau yang biasa disebut SongkokPamiring juga sering disebut songkok To Bone, ketiga sebutan ini mempunyai kisah dan waktunya masing-masing. Mulanya Songkok Recca ada ketika Raja Bone Ke-15, yaitu Arung Palakka menyerang Tanah Toraja (Tator) pada tahun 1683. Saat itu, Tentara Tator memberikan perlawanan yang sengit terhadap pasukan Arung Palakka. Alhasil, ia hanya  berhasil menduduki beberapa desa di wilayah Makale-Rantepao saja.

Ciri khas tentara kerajaan Bone yang cukup mencolok pada masa lalu yaitu dengan memakai sarung yang diikatkan di pinggang atau nama lainnya adalah (Mabbida atau Mappangare’ Lipa’). Selain itu, Prajurit Tator juga mempunyai kebiasaan memakai sarung tetapi diselempang yang biasa disebut (Massuleppang Lipa), sehingga saat terjadi pertempuran di malam hari berikutnya pasukan tentara jadi sulit dibedakan mana yang lawan ataupun  kawan. Alasannya sederhana, baik lawan maupun kawan (prajurit Tatot ataupun Bone) masing-masing memakai sarung.

Arung Palakka, Raja Bone ke-15,  menyiasatinya dengan menyusun strategi dan memerintahkan prajuritnya untuk memasang pembeda di kepala dengan memakai songkok, atau yang dikenal dengan songkok Recca. Singkat cerita, pada masa pemerintahan raja Bone ke-32 yaitu Lamappanyukki tahun 1931 songkok recca dijadikan kopiah resmi atau songkok kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para punggawa-pungawa kerajaan saat itu. Hal ini bertujuan untuk membedakan tingkat kederajatan di antara mereka, maka songko’ recca akhirnya dibuat dengan pinggiran berbahankan emas atau disebut dengan (pamiring pulaweng), yang melambangkan tingkat strata atau drajatnya. Oleh karenanya, songkok recca disebut juga dengan songkok pamiring karena  berlapiskan emas.

Selanjutnya, pada masa kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar, benang emas yang melingkar pada songkok pamiring ternyata memiliki makna, semakin tinggi lingkaran emasnya maka semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Dalam sejarahnya hanya Sombayya ri Gowa dan Petta Mangkaue di Bone serta raja sederajat yang berhak memakai lingkar emas tertinggi. Tinggi lingkar emas itu kira-kira hanya menyisakan 1 cm pinggiran tanpa untaian lapis emas.

Saat itu, terdapat aturan bagi pemakai songkok pamiring, di mana hanya bangsawan berkedudukan sebagai raja, anak raja yang dianggap berdarah biru (Maddara Takku), anak Mattola, boleh menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat dari emas murni atau dalam istilah bugis Ulaweng bubbu. Adapun sebagian golongan yang disebut Arung Mattola Menre, Anak Arung Manrapi, Anak Arung Sipue dan Anakkarung boleh memakai songkok pamiring dengan lebar emas tiga-per-lima dari tinggi songkoknya.

Ada juga Golongan yang disebut Rajeng Matase, golongan ini boleh memakai songkok pamiring dengan lebar emas setengah bagian dari tinggi songkoknya. Lalu, golongan yang disebut Tau Deceng, Tau Maradeka dan Tau Sama juga diperbolehkan memakai songkok recca berpinggiran emas. Sedangkan golongan yang disebut Ata sama sekali tidak dibolehkan memakai songkok ini.

Katanya, aturan ini memiliki makna dan pesan moral yang tinggi, tentang nilai kehidupan sosial. Banyak pelajaran tentang kehidupan dari songkok ini, seperti pentingnya menghormati yang tua (yang dituakan) dan menghargai yang muda.

Saat ini, Songkok Recca/Songkok To Bone dapat ditemui di kabupaten Bone, Awangpone, Sulawesi Selatan. Di sana terdapat desa Paccing Awangpone yang memproduksinya. Di desa ini, terdapat komunitas masyarakat yang secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil mengayam pelepah daun. Profesinya sebagai penganyam menghasilkan songkok yang bernama Recca.  MERAHNEWS.COM | HAJAR TRIWIJAYA / NURLAELA TUL FADILLAH