Benteng Balangnipa, Saksi Bisu Perjuangan Melawan Kolonial

oleh -32 views
Benteng Balangnipa Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan. Merahnews.com | Kemendikbud

MERAHNEWS.COM | Sinjai – Benteng Balangnipa merupakan salah satu benteng terbesar di Sulawesi Selatan dan menjadi bukti sejarah dan rekam jejak masa lalu. Benteng dengan arsitektur khas Eropa ini merupakan saksi sejarah perlawanan Kerajaan Tellulimpoe dalam menentang agresi militer kaum kulit putih pada masa kolonial.

Benteng Balangnipa terletak di Jalan Sungai Tangka kelurahan Balangnipa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai berjarak sekitar 1 km dari pusat kota. Secara geografis, benteng ini berada di pinggir Sungai Tangka yang memiliki hulu dari gunung Bawakaraeng hingga ke lepas Pantai Mangngarabombang.

Benteng Balangnipa dibangun pada 1557 sebagai simbol bersatunya tiga kerajaan yaitu Kerajaan Bulo-bulo, Kerajaan Lamatti dan Kerajaan Tondong yang kemudian dikenal dengan sebutan Kerajaan Tellulimpoe. Ketiga kerajaan tersebut berada di bawah naungan Kerajaan Gowa, yang merupakan kerajaan terkuat di kawasan Indonesia Timur pada masa itu.

Pada awalnya, benteng ini hanya terbuat dari batu gunung yang ditempel dengan Lumpur dari Sungai Tangka dengan ketebalan dinding “Siwali Reppa” atau setengah sepa. Bentuk dan struktur bangunan benteng menghadap ke Sungai Tangka di utara.  Selain menjadi benteng pertahanan, tempat ini juga menjadi pusat administrasi tiga kerajaan tersebut.

Perlawanan kerajaan Tellulimpoe menentang agresi militer Belanda dikenal dengan Rumpa’na Mangarabombang atau perang Mangngarabombang yang terjadi pada tahun 1859-1961. Benteng Balangnipa berhasil direbut pada tahun 1859 karena kekuatan dan peralatan perang kerajaan Tellulimpoe tidak sebanding dengan yang dimiliki oleh Belanda. Belanda kemudian menjadikan Benteng Balangnipa sebagai markas pertahanan untuk membendung serangan orang-orang pribumi persekutuan kerajaan Tellulimpoe maupun serangan dari luar.

Pada tahun 1864-1868 Benteng Balangnipa direnovasi oleh Belanda dengan menggunakan sentuhan arsitektur Eropa dan menjadi pusat administrasi bagi pemerintah Kolonial Belanda. Hasil renovasi ini telah menghilangkan ciri bangunan tradisional Bugis-Makassar.

Benteng ini terdiri atas 4 sudut atau bastion sebagai pos jaga untuk memantau lalu lintas sungai dan pergerakan musuh di sekitar benteng. Luasnya sekitar 2500 meter persegi berbentuk hampir menyerupai bujursangkar dengan panjang sisinya sekitar 50 meter. Di dalam Benteng terdapat beberapa bangunan yang terdiri dari 2 buah dapur, 3 buah rumah, 1 bangunan bekas tempat Mesiu dan 4 buah sumur. Di bawah Bastion terdapat sel yang merupakan saksi penyiksaan para pejuang terdahulu.

Hingga kini arsitektur benteng Balangnipa masih bertahan. Model dan materialnya yang ada sekarang masih sama seperti saat dibangun. Beberapa bukti sejarah juga masih bisa dijumpai, seperti meriam, peralatan makan, gudang penyimpanan senjata, dan ruang para prajurit.

Benteng Balangnipa sekarang telah menjadi situs bersejarah dan museum yang menampilkan peninggalan bersejarah dan juga memberikan pembinaan budaya serta menjadi arena atraksi budaya tradisional.

Merahnews.com | Syatrawati / Helen Angelica