Daya Saing Ekonomi Terus Menurun, Prof Musran Tawarkan Strategi TQM, SCM dan Pemanfaatan IT

oleh -0 views
Prof.Dr Musran Munizu menyampaikan Pidato Penerimaan Jabatan Guru Beesar di bidang Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar, Rabu (25/9/2019) | Merahnews.Com - Mul

MERAHNEWS.COM I MAKASSAR — Kondisi persaingan bisnis global yang sangat dinamis ternyata berimplikasi terhadap penurunan daya saing ekonomi Indonesia. Daya saing ekonomi Indonesia di level internasional terus menunjukkan trend penurunan. Data Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) menunjukkan bahwa sejak tahun 2014 daya saing ekonomi terus menurun. Daya saing ekonomi ekonomi Indonesia pada tahun 2014 yang berada di posisi 34 turun ke posisi 37 pada tahun 2015. Tahun 2016 dayang saing ekonomi Indonesia turun lagi ke peringkat 41. Posisi daya saing ekonomi Indonesia kembali terpuruk ke level 45 di tahun 2018 dari 140 negara di dunia.

Hal tersebut diungkapkan pakar ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof.Dr. Musran Munizu, SE, M.Si, CIPM dalam Pidato Penerimaan Jabatan Professor di bidang Manajemen Operasional Fakultan Ekonomi dan Bisnis Unhas yang berlangsung di ruang Sebat Unhas, Rabu (25/9/2019).

Selain menurunnya daya saing ekonomi Indonesia di level global kata Prof Musran, kondisi persaingan bisnis global juga menyebabkan menurunnya trend daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh industri manufaktur dalam negeri. Hal ini terlihat secara jelas pada neraca perdagangan Indonesia dengan beberapa negara mitra dagang seperti China / Tiongkok, Thailand, Vietnam dan Singapura yang menunjukkan cukup besarnya net impor non migas Indonesia terhadap negara-negara tersebut. Padahal suatu perekonomian baru bisa dikatakan berdaya saing tinggi jika sektor industri manufakturnya telah berkembang secara berarti dan menjadi basis ekspor dalam perekonomian.

Menyikapi terus menurunnya daya saing ekonomi Indonesia khususnya daya saing produk-produk manufaktur dalam negri tersebut, Prof Musran menawarkan salah satu solusi berupa implementasi praktik Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management atau TQM), Pengelolaan rantai Pasok yang efektif (Supply Chain Management atau SCM) dan pemanfaatan teknologi informasi (Infromation Technology atau IT) bagi industri manufaktur.

“Pengelolaan rantai pasokan yang efektif bertumpu pada pada koordinasi, kolaborasi dan integrasi sistem untuk memastikan produk tersediasecara on-time atau tepat waktu dan terjamin kualitas. Sedangkan praktik TQM fokus pada peningkatan produktivitas dan kualitas seluruh rantai pasokan. Sementara implementasi tekonlogi informasi dapat mempercepat koordinasi dan kolaborasi melalui integrasi sistem berbasis elektornik yang dimulai dari pemasok atau supplier, melintasi perusahaan, pabrikasi dan pergudangan, pedagang besar, retailer sampai pada pelanggan akhir yang merasa terpenuhi dan terpuaskan kebutuhannya,” ujar pemakalah terbaik The 1st Best Presenter at Master and Doctorate in Management Scence ini.

Reviewer International Journal of Bussines Research terbitan Amerika Serikat ini menambahkan, untuk menjamin keberhasilan implementasi parktik manajemen mutu atau TQM, pengelolaan rantai pasok atau SCM dan pemanfaatan teknologi informasi secara konsisten dibutuhkan para manajer perusahaan yang mumpuni yakin memiliki komitmen yang kuat, punya pengetahuan dan skill yang memadai serta komprehensif.

Pria kelahiran Baubau ini menegaskan, daya saing perusahaan manufaktur yang semakin meningkat dalam jangka panjang dapat mendorong peningkatan daya saing insudtri nasional dan pada gilirannya akan memberikan kontribusi positif pada peningkatan posisi daya saing nasioanl di tingkat internasional. Merahnews.com |MMM