27 Steps of May : Wakili Suara Korban Kekerasan Seksual

oleh -16 views
Film 27 Steps of May ini tayang di bioskop Indonesia mulai Sabtu (27/4/19). Sebelum tayang di bioskop, film ini ternyata pernah tayang di beberapa festival film seperti Busan Internasional Film Festival.

 

27 Steps of May, Resensi Film
Film 27 Steps of May ini tayang di bioskop Indonesia mulai Sabtu (27/4/19). Sebelum tayang di bioskop, film ini ternyata pernah tayang di beberapa festival film seperti Busan Internasional Film Festival.

Judul Film        : 27 Steps of May

Sutradara        : Ravi Bharwani

Penulis  Naskah : Rayya Makarim

Produser          : Wilza Lubiz, Rayya Makarim, Ravi Bharwani

Produksi          : Green Glow Pictures

Pemain            : Raihaanun, Lukman Sardi, Verdi Solaiman, Ario Bayu

Durasi              : 112 menit

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR — Film 27 Steps of May ini tayang di bioskop Indonesia mulai Sabtu (27/4/19). Sebelum tayang di bioskop, film ini ternyata pernah tayang di beberapa festival film seperti Busan Internasional Film Festival.

Bercerita tentang trauma psikologis seorang May (Raihasnun) ketika berumur 14 tahun yang mengalami pemerkosaan, secara ramai-ramai. Isu kekerasan seksual terhadap perempuan ini pernah diangkat di film Marlina Si Pembunuh Empat Babak sekitar dua tahun yang lalu. Tetapi film tersebut menceritakan tentang  balas dendam dari perbuatan yang sudah dilakukan terhadap Marlina. Sedangkan 27 Steps of May ini mengangkat kisah dari sudut pandang May sebagai seorang korban dan keluarganya yang tekena dampaknya. Jadi bagaimana trauma yang dialami May mempengaruhi kehidupan mereka sebagai keluarga dan sebagai manusia. Film ini menunjukkan betapa beratnya oerjuangan dari usaha si tokoh untuk bisa lepas dari trauma tersebut. Apakah itu akan berhasil? Itu akan terjawab jika kalian menonton film ini.

Lukman Sardi sebagai bapak May di sini bisa menggambarkan betapa patah hatinya seorang orang tua ketika kejadian tersebut menimpa anaknya. Bahkan sepertinya lebih patah hati bapaknya daripada May sendiri. Kemampuan akting Lukman Sardi di film ini patut diacungi jempol lagi, karena sebagai bapak didepan May dia harus bersikap baik, lemah lembut, walaupun dalam keheningan setia menemani si May dalam kesehariannya. Tetapi di sisi lainnya, dia sangat kontras. Dia sangat pemarah, frustasi, dan dari raut mukanya, cara dia merespon orang lain betapa rasa bersalah itu yang dia pendam bertahun-tahun sehingga jadinya menggila seperti itu.

Untungnya, ada kehadiran seorang Kurir yang diperankan oleh Verdi Solaiman. Setidaknya dalam film ini ada sedikit unsur komedi. Jadi emosi dalam film ini tidak hanya tegang, gelisah yang dirasakan oleh penonton. Karakter Kurir ini muncul sebagai penetralisir dan juga sebagai pengingat untuk karakter lainnya. Ada juga Ario Bayu yang berperan sebagai pesulap, tetangganya May. Karakter ini juga sangat penting. Kesannya memang sedikit metafora, tetapi tergantung dari bagaimana penonton memandang karatakter ini. Kehadiran si Pesulap ini juga menggambarkan betapa stray to the pointnya pesan yang ingin disampaikan film ini.

Penggambaran transisi kehidupan May dari yang sangat monoton sampai akhirnya menerima perubahan-perubahan kecil di hidupnya yang datar itu. Bentuk-bentuk kontak fisik yang dilakukan oleh May merupakan kompensasi trauma psikologis yang sesungguhnya sangat sulit dikontrol.

Film ini adalah film yang hening dan minim dialog, terutama bagian May. Yang menarik, film ini menyisipkan suara jarum jam di tengah keheningan. Jadi, bisa memberikan efek gelisah kepada penonton.

Flow lambat mungkin akan membuat beberapa penonton yang belum terbiasa harus menguatkan hatinya. Tetapi hal itu sangat wajar, sebab film ini menceritakan perjalanan psikologis manusia yang sangat kompleks. MERAHNEWS.COM | Kartika Nursyahbani/Nur Annisa S Laruddin

 

 

Gambar utama : poster, sumber dari imdb.com

Gambar media : instagram.com/27stepofmay