Produksi Stagnan, Para Pakar Cari Solusi Tangani Hama dan Penyakit Kakao

oleh -17 views

MERAHNEWS.COM | BALI – Mars bekerja sama dengan Australian Center for Agricultural Research(ACIAR) menyelenggarakan Asia Pacific Regional Cocoa Integrated Pest Management Symposium 2019, di Bali, 9-11 April 2019.

Menurut Arie Nauvel Iskandar, Direktur Corporate Affairs Mars Indonesia, tujuan kegiatan ini adalah untuk berbagi dan mengembangkan keahlian tentang penyakit kakao yang kurang dikenal, yang sangat berdampak pada menurunnya produktivitas petani dan pada akhirnya mengancam industri cokelat global.

Menurutnya, simposium ini terinspirasi oleh keinginan untuk “meningkatkan daya tahan kakao terhadap ancaman utama hama dan penyakit di abad ke-21”, dengan menyatukan sejumlah ilmuwan di bidang kakao dari negara-negara penghasil kakao Asia-Pasifik serta ilmuwan regional dan internasional yang bekerja tentang Pengelolaan Hama Terpadu.

Saat ini, mata pencaharian 40 juta orang di seluruh dunia terkait dengan produksi kakao, namun ironisnya sekitar 38% dari tanaman kakao tersebut hilang setiap tahun karena masalah jamur, virus atau hama. Hasil kakao masih stagnan karena adanya masalah hama dan penyakit yang belum dipahami dengan baik selama ini.

Turut hadir dalam simposium ini sejumlah peneliti hama dan penyakit dari perguruan tinggi seperti University of Sidney, University of Queenslands, James Cook Univesity (Australia), Nong Lam University (Vietnam), University of Reading (Inggris), Universitas Hasanuddin, Universitas Muslim Indonesia, dan Universitas GajahMada. Hadir pula peneliti-peneliti kakao dari berbagai institusi kakao dari Asia, Australia, Amerika, Papua Nugini, Eropa, dan Afrika.

Lanjut dikatakan Arie bahwa balam simposium ini, para pakar kakao tersebut akan berbagi hasil penelitian dan berdiskusi terkait hama dan penyakit kakao. Fokus pada pengembangan pendekatan praktis dan mengkajiapa lagi yang perlu diketahui terkait patogen kompleks ini.

“Tujuannya untuk mendapatkan peluang terbaik dalam penanggulangannya dalam konteks adanya tantangan tambahan, seperti perubahan iklim, persaingan dengan tanaman lain, kelangkaan tenaga kerja, dll.”

Lanjut dikatakan Arie,kegiatan inipentingdalam rangka mengatasi masalah hama dan penyakit kakao, khususnya di Indonesia. Diharapkan dari hasil simposium ini akan memberikan harapan yang lebih baik bagi petani.

“Kami percaya bahwa menemukan solusi alternatif untuk mengatasi berbagai penyakit kakao tentu akan meningkatkan kualitas dan produktivitas biji kakao, dan dengan melakukan itu akan memberikan harapan bagi petani kakao, terutama di Indonesia,” katanya.

Menurut Jean-Philippe Marelli, Sr. Direktur Pengelolaan Hama Terpadu, Mars Cocoa, kakao adalah tanaman unik yang memiliki beragam patogen dan hama yang rumit dengan siklus hidup yang kompleks. Patogen kakao, terutama spesies yang kurang dikenal seperti Frosty Pod dan Cacao Swollen Shoot Virus, perlu diteliti lebih lanjut.

“Inilah sebabnya kami menginisiasi simposium ini, untuk mendorong kolaborasi dan berbagi keahlian kami dalam sains dan teknologi, sehingga dapat membantu petani kakao di seluruh dunia,” ungkapnya.

Patogen kakao sendiri sangat beragam, kompleks dan kurang dipahami dibandingkan dengan penyakit tanaman lainnya. Patogen kecil dan serangga yang saat ini terlokalisasi, mungkin juga menjadi lebih buruk dengan perubahan iklim atau jika mereka menyebar ke lingkungan baru. Selain itu, aktivitas manusia juga telah menjadi ancaman terbesar untuk menyebarkan penyakit-penyakit ini, dengan konsekuensi yang berpotensi bencana bagi industri cokelat.

“Mars percaya dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami penyakit unik ini – terutama varietas yang kurang dikenal seperti Witches Broom dan Frosty Pod, yang keduanya bertanggung jawab atas hilangnya tanaman kakao secara signifikan,” ujar Marelli.

Mars sendiri  merupakan bisnis milik keluarga dengan lebih dari satu abad sejarah membuat beragam produk dan menawarkan layanan untuk orang-orang dan hewan peliharaan yang disukai orang. Dengan penjualan lebih dari $35 miliar, perusahaan ini adalah bisnis global yang menghasilkan beberapa merek paling dicintai di dunia:  M&M’s®, SNICKERS®, TWIX®, MILKY WAY®, DOVE®, PEDIGREE®, ROYAL CANIN®, WHISKAS®, EXTRA®, ORBIT®, 5™, SKITTLES®, UNCLE BEN’S®, and COCOAVIA®.

Mars mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1996 dengan didirikannya PT. Mars Symbioscience Indonesia dan fasilitas pemrosesan biji kakao di Makassar, Sulawesi Selatan. Pabrik bertaraf internasional ini adalah pabrik pengolahan kakao pertama di Sulawesi. Pabrik tersebut berkapasitas 24.000 ton memproses biji kakao setiap tahun menjadi lemak kakao, bubuk kakao dan pasta kakao.

MERAHNEWS.COM |WAHYUCH