Teliti Rumpon Mandar, Syamsul Bahri Raih Gelar Doktor Antropologi di Unhas

oleh -34 views
Syamsul Bahri, Rumpon, nelayan Mandar, Promosi Doktor, Antropologi Fisip Unhas
Dr Syamsul Bahri mengikuti Ujian Promosi Doktor di Bidang Antropologi Fisip Unhas, Kamis (20/12/2018)

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR — Bagi orang Mandar, rumpon bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu tangkap ikan melainkan juga berfungsi sebagai pranata yang mengatur hak wilayah penangkapan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut. Bahkan, Rumpon juga mengandung simbol dan makna tersendiri dalam Kosmologi orang Mandar. Orang Mandar menyebutnya dengan istilah Ussul.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Syamsul Bahri saat ujian Promosi Doktor bidang Antropologi Fisip Unhas, Kamis (20/12/2018).

Menurut peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan ini, secara umum konstruksi Rumpon terdiri atas 3 (tiga) komponenen utama yaitu: Komponen Atas, Komponen Tengah dan Komponen Bawah. Menurut kepercayaan nelayan Pambusuang Mandar, Ketiga komponen ini merupakan representasi alam semesta (makrokosmos) yang terdiri atas tiga susun yaitu: Langit, Bumi atau tanah dan Palung laut.

Itulah sebabnya kata Sayamsul Bahri, Rumpon terdiri atas tiga bagian utama yaitu: bagian atas berupa Bulo-Bulo (Pelampung), begaian tengah berupa Belayang (Tali utama yang menghubungkan antara pelampung dan batu pemberat), dan bagian bawah berupa Batu Pemberat atau Jangkar Rumpon.

Bagi orang Mandar kata Syamsul Bahri, Rumpon itu dianalogikan sebagai seorang bayi masih berada dalam kandungan (mikroskopis). Bulobulo atau pelampung diibaratkan sebagai bayi itu sendiri, sementara belayang atau tali penghubung diibaratkan sebagai tali plasenta yang menghubungkan sang bayi dengan sang ibu. Batu pemberat dibaratkan sebagai ketuban ibu sang janin atau bayi tersebut.

Layaknya seorang bayi tambah penulis buku Alat Tangkap Nelayan Tradisonal Nelayan Kampung Padang Selayar ini, Rumpon juga memiliki Ruas bambu dan tunas yang dianalogikan sebagai kaki dan mata bayi.

“Bagian ini harus diperhatikan baik-baik posisinya sebab kalau terjadi kesalahan maka akan membuat rumpon pincang dan buta sehingga tidak produktif, ” kata Syamsul Bahri.

Ibarat manusia yang memiliki pusat kata Syamsul Bahri, Rumpon juga memiliki pusat yang diberi nama Posiq Roppong. Posiq Roppong ini dimaknai sebagai jalan masuk dan keluarnya Sumange (Spirit) atau nyawa manusia.

Menurut pria kelahiran Rappang ini, nelayan Mandar percaya bahwa daya tahan Rumpon sama dengan usia manusia. Maksudnya kata Syamsul, pemilik rumpon harus menanamkan sikap untuk senantiasa berusaha merawat Rumpon agar bisa bertahan hidup dan berusia panjang. Namun sang pemilik rumpon juga selalu menanamkan sikap tawakkal kepada Allah swt bahwa sewaktu-waktu, cepat atau lambat, rumpon tersebut akan rumpon layaknya manusia yang dipanggil oleh sang pencipta.

Itulah sebabnya kata Syamsul Bahri, nelayan Mandar khususnya Pambusuang memperlakukan Rumpon layaknya makhluk hidup.

“Rumpon itu seperti makhluk hidup. ia harus diperlakukan dengan baik. Jika diperlakukan dengan baik maka rumpon itu akan mendatangkan rezeki yang banyak dan berkah.” kata Syamsul.

Syamsul Bahri menambahkan, nelayan Mandar juga meyakini bahwa rumpon juga memiliki fungsi yang sama dengan rumah manusia yaitu sebagai tempat bagi ikan untuk beristrahat, bermain-main dan melakukan kegiatan reproduksi atau perkembangbiakan. MERAHNEWS.COM | MUL