FGD Mengembalikan Kejayaan Kakao Sulsel

oleh
Prof. Dr. Yusran, Ketua TP2D menyambut baik kegiatan FGD ini dan berjanji akan menampung rekomendasi dari FGD ini sebagai salah satu program priotitas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Sulsel. Foto. Wahyu Chandra

MERAHNEWS|MAKASSAR –Sebagai upaya mengembalikan upaya kejayaan kakao sebagai identitas masyarakat Sulsel, Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Asoasiasi Kakao Indonesia dan Mars Indonesia menyelenggarakan Focus Group Discussion di gedung Pusat Kegiatan Penelitian Unhas, Sabtu (27/10/2018).

Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), Iqbail Suhaeb, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Sulsel, Prof. Dr. Yusran, Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Andi Parenrengi.

Selain itu, hadir pula Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, Dekan Fakultas Pertanian Unhas, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Ketua Badan Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Unhas, Ketua Askindo, Kordinator CSP, dan sejumlah pakar peneliti kakao di Sulsel.

Dari pihak swasta, selain dari Mars, hadir pula perwakilan Modelez dan Cargill. Hadir juga perwakilan Swisscontact serta sejumlah stakeholders kakao lainnya.

Kepala Balitbangda Sulsel, Iqbal Suhaeb, yang membuka acara ini menyampaikan sejumlah pandangannya terkait kondisi kakao di Indonesia saat ini.

“Kakao kita di Indonesia kalau dipemermentasikan tidak kalah dengan Ghana. Kakao kita lebih tahan panas sehingga kualitas jauh lebih bagus,”katanya.

Menurut Iqbal, salah satu tantangan terbesar kakao kita saat ini adalah usia pohon yang tua, 20 tahun ke atas. Di sisi lain, petani kakao juga didominasi oleh petani-petani tua, sementara anak-anak mereka tidak ingin melanjutkan profesi orang tua mereka sebagai petani .

“Padahal kebutuhan kakao saat ini sangat tinggi. Bicara dalam negeri saja sudah sangat butuh.”

Iqbal mengakui kondisi kakao di Sulsel saat ini memperihatinkan. Berbagai program yang telah dilakukan, termasuk Gernas Kakao hasilnya tidak terlalu optimal.

“Ini harus dipikirkan, kalau Sulsel bisa bangkit kakao, maka Indonesia bisa bangkit. Kalau ini bisa prioritas unggulan maka salah satunya adalah kakao. Semoga dari kegiatan ini bagaimana kakao tidak hanya dipikirkan dinas tetapi multisektor. Tidak hanya di hulu, sehingga memberi keuntungan bagi petani. Bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.”

Arie Nauvel iskandar, Ketua Askindo, menyampaikan bahwa salah tantangan sektor kakao saat ini adalah petani yang mulai berkurang karena minat generasi muda untuk bertani yang mulai hilang.

“Kondisi petani di mana rata-rata umur petani kita 35-45 tahun masih ada gap. Beberapa industri sudah membaca hal ini kemudian memberikan program bagaimana memberikan daya tarik kepada pemuda untuk masuk ke wilayah pertanian.”

Menurutnya,bahkan di dunia di digital, milenial tidak begitu memahami secara jelas, sehingga informasinya harus diisi dan menjadi tanggung jawab bersama bagaimana memberikan daya tarik untuk petani muda.

“Kita harus mengisi kekosongan informasi khususnya tentang kakao untuk yang muda dan milineal. Buku-buku yang bapak terima tadi ini adalah salah satu inisiasi oleh MARS bagaimana memberikan informasi sejak dini di tingkat SD supaya mereka tahu bahwa kakao mempunyai masa depan,” katanya.

Terkait komoditas kakao yang kini didorong menjadi salah satu komoditas unggulan Sulsel, Arie menilai bahwa persoalan kakao relatif sama dari tahun ke tahun.

“Kita semua sudah tahu masalahnya seperti apa. Tinggal kita bagaimana menghilangkan ego sektoral, karena terus terang bagaimana kita harus meningkatkan produksi dan kualitas biji kakao harus ada kolaborasi dan ini harus didorong dari pemerintah. Itulah masalah yang kita hadapi saat ini.”

Arie menyatakan bahwa kakao seharusnya menjadi prioritas program jika ingin menyejeterahkanpetani. Dibandingkan sawit dan karet, jika dikelola dengan baik dan benar, kakao lebih jauh lebih menguntungkan dan meningkatkan penghasilan petani.

“Kakao lebih kompetitif dibandingkan dari karet dan sawit.”

Arie berharap upaya-upaya dalam meningkatkan produktivitas kakao tidak sekedar hanya menjadi tujuan kementerian saja tetapi juga harus memperhatikan komitmen-komitmen yang ada pada Sustainable Development Goals(SDGs).

Tiga pakar kakao dari Unhas, masing-masing Prof. Dr.Ir. Ade Rosmana, Prof. Dr. Ir. Siktus Gusli dan Dr.Ir. Nasaruddin Badar, turut memberi pandangan terkait aspek budidaya, tanah, serta hama dan penyakit.

Prof. Dr. Yusran, Ketua TP2D menyambut baik kegiatan FGD ini dan berjanji akan menampung rekomendasi dari FGD ini sebagai salah satu program priotitas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Sulsel.

“Kita sepakat bahwa ada kerusakan ekosistem di kakao sehingga perlu penanganan yang komprehensif, dengan memanfaatkan potensi-potensi lokal yang ada,” ungkapnya.

Yusran mengurai beberapa masalah yang dihadapi saat ini antara lain masalah bibit, kemudian beberapa kebijakan nasional yang menghambat serta tidak adanya penyuluh khusus yang bisa menjadi jembatan, sehingga terjadi diskoneksi.

“Kelembagaan petani juga menjadi sangat penting, baik hubungannya dengan industri maupun perbankan. Kemudian, sesuai diusulkan Prof Siktus dari Unhas, bahwa perlu ada pola penanaman yang terintegrasi dengan komoditas lain, sehingga bisa ada tambahan penghasilan bagi petani dalam periode setahun,” tambahnya.

Hal lain yang mengemuka dalam diskusi tersebut disampaikan Yusran adalah perlu adanya komposisi pupuk untuk kakao yang memang berbeda dengan tanaman lain.

“Hal lainnya adalah perlu ada kampanye menggaungkan bahwa kakao kita punya keunggulan yang jauh berbeda dengan kakao di tempat lain, lalu ada masukan mendorong bagaimana adanya desa dan kabupaten organik. Semua saya kira menuju ke sana. Lalu juga masukan perlunya produk hasil bukan hanya pada biji tapi juga pada turunannya,” katanya.

Yusran mengapresiasi berbagai masukan untuk pengembangan kakao tersebut, serta adanya optimisme dari berbagai pihak untuk berkolaborasi melaksanakan program ini nantinya.

“Semua pihak optimis dan berkomitmen. Kita semua menjadi bagian dari orang membangkitkan kakao. Kita akan melaporkan ini ke Pak Gubernur.”

Pada kesempatan ini dilakukan pula penandatanganan komitmen Kakao Bangkit dari seluruh peserta yang hadir.*

 

MERAHNEWS.COM|WAHYUCH