Training Transplantasi Karang untuk Taman Nasional Seluruh Indonesia di Pulau Badi

oleh
Sebanyak 38 orang mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 30 orang dari Balai Besar/Balai Taman Nasional dan Balai Besar/Balai KSDA terkait di seluruh Indonesia dan 8 orang lainnya dari Subdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi. FOTO: Rison Syamsuddin

MERAHNEWS|PANGKEP –Direktorat Kawasan Konservasi (KK), Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggandeng Mars Indonesia untuk menyelenggarakan training transplantasi karang dengan metode rangka laba-laba (spider), di Makassar dan Pulau Badi Pangkep, 15-17 Oktober 2018.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia staf Taman Nasional khususnya terkait transplantasi terumbu karang. Mars Indonesia berkontribusi menyiapkan tenaga pelatih, materi pelatihan dan fasilitas sarana prasarana transplantasi karang di Pulau Badi.

Tandya Tjahjana, Plt. Direktur Kawasan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, dalam sambutannya pada acara pembukaan di Pulau Badi, Pangkep, Selasa (16/10/2018) menyatakan pentingnya kegiatan ini dalam kaitannya dengan upaya pemulihan eksosistem terumbu karang yang terdegradasi dalam jumlah yang cukup besar.

“Dalam roadmap kami tahun 2015-2019, salah satu indikator kinerja utama berupa pemulihan ekosistem kawasan konservasi yang terdegradasi seluas 100.000 hektar. Kalau ini bisa diperbaiki luar biasa, tapi ini tidak hanya di air tetapi juga di daratan,” katanya.

Menurutnya, realisasi target pemulihan masih sangat kecil, yaitu 25 persen, sehingga diperlukan upaya pemulihan melalui rehabilitasi dan restorasi, tidak hanya mengandalkan mekanisme alam dalam proses pemulihan itu.

“Kita tidak mungkin hanya menunggu pemulihan ekosistem secara alami.Kita harus memberi bantuan, karena tanpa bantuan maka akan lambat sekali pemulihan ini,” tambahnya.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas pengelola dalam melaksanakan tahapan dan menyamakan persepsi dalam pelaksanaan pemulihan ekosistem terumbu karang. Dengan harapan bahwa upaya tersebut dapat mengembalikan ekosistem kondisi asli atau mendekati aslinya.

Dikatakan Tandya bahwa pemulihan ekosistem akan berhasil apabila dapat mengimplementasikan cara baru pengelolaan kawasan konservasi tersebut.

“Penekanan kunci keberhasilan lebih pada insentifnya pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat ekologi dan ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.

Tandya selanjutnya memberi apresiasi kepada Mars atas dukungan pelaksanaan kegiatan ini dan berharap kerja sama ini akan terus berlanjut untuk tahap berikutnya, dengan harapan agar terumbu karang di kawasan konservasi di Indonesia dapat tumbuh dengan baik.

Materi pelatihan terdiri dari praktik transplantasi karang yang dibawakan oleh Noel Janetski dari Mars Indonesia, yang dinilai telah berhasil melaksanakan transplantasi karang secara partisipatif bersama warga masyarakat di Pulau Badi dan Bontosua Kabupaten Pangkep.

Sebanyak 38 orang mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 30 orang dari Balai Besar/Balai Taman Nasional dan Balai Besar/Balai KSDA terkait di seluruh Indonesia dan 8 orang lainnya dari Subdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi.

“Kegiatan ini merupakan sesi tiga hari yang cukup kompleks. Tetapi hal yang sangat penting bahwa kami menciptakan pemahaman yang benar dan keterlibatan dengan tim Taman Nasional dan KSDA, sehingga kami menjadi lebih dekat dan terus bekerja bersama mereka untuk membantu mereka memulihkan daerah-daerah laut utama di Indonesia,” ungkap Noel.

Kegiatan yang dilakukan mencakup seminar sehari pada 15 Oktober 2018 di Balai Pendidikan dan Pelatihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Sudiang, mencakup presentasi dan demonstrasi praktik di permukaan air.

Hari kedua berupa kunjungan lapangan untuk melihat pembuatan dan pengamatan rangka laba-laba (spider), belajar tentang pengalaman restorasi terumbu karang di Pulau Badi dan melihat kemajuan pada program restorasi selama 5 tahun (setelah 1 tahun fase implementasi) di Pulau Bontosua.

Pada hari ketiga seluruh peserta bekerja dengan komunitas di Pulau Bontosua untuk memecah dan mengikat pecahan karang ke rangka laba-laba, dan memindahkannya ke lokasi restorasi.

Menurut Arie Nauvel Iskandar, Corporate Affairs Director Mars Indonesia, kegiatan ini merupakan perwujudan kerjasama dengan Pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan laut melalui restorasi terumbu karang. Pada Pelatihan ini Mars akan memperkenalkan metode restorasi terumbu karang dan kegiatan restorasi terumbu karang yang dilakukan oleh Mars.

“Mars Sustainable Solution memahami kondisi karang yang ada di Coral Triangle yang sudah memprihatinkan, oleh karena itu kami senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan terkait restorasi karang,” katanya.

Irene Maria Ramche, peserta dari Balai Besar KSDA Papua Barat menyatakan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan ini di mana ia dapat memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman.

“Saya sangat mengapresiasi Mars atas konservasi yang sudah dilakukan dengan baik di Pulau Badi dan Pulau Bontosua. Lewat Training yang dilaksanakan oleh Dit. KK Ditjen KSDAE KLHK ini, saya juga belajar melihat bagaimana pemberdayaan masyarakat pesisir dapat berjalan dengan baik, lewat mata pencaharian alternatif, seperti budidaya kuda laut di Pulau Badi.

Hal yang sama disampaikan oleh Mumu Muawalah dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon yang berharapakan ada kegiatan yang sama nantinya di wilayah kerjanya.

“Dari sekian banyak kegiatan yang saya ikuti, kegiatan ini merupakan pengalaman yang terbaik buat saya. Saya akan mencoba untuk juga lakukan di Taman Nasional Ujung Kulon. Usul saya, alangkah baiknya ketika kegiatan restorasi ini sudah dilaksanakan di wilayah kami, harus mendatangkan ahlinya dari Mars.”*

MERAHNEWS.COM|WAHYUCH