Atasi Kemiskinan, Prof Rabina: Masukkan Perspektif Gender dalam Strategi Kebijakan

oleh
Prof Rabina Yunus menyampaikan Pidato Penerimaan Guru Besar bidang Pemerintahan Fisip Unhas di Ruang Senat Akademik Unhas, Selasa (18/9/2018) Merahnews.com - Humas Unhas

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR — Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Indonesia mengalami sedikit penurunan dari 28,01 juta orang per Maret 2016 menjadi 27.76 juta orang per Maret 2016.  Namun pada Maret 2017, angka kemiskinan di Indonesia meningkat lagi menjadi 27,77 juta orang.

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Hasanuddin, Prof.Dr. Rabina Yunus, M.Si menilai, tingginya angka kemiskinan di Indonesia menunjukkan bahwa berbagai kebijakan dan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah nampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

“Strategi pemerintah belum bisa menyentuh aspek mendasar kondisi kemiskinan masyarakat di Indonesia, terutama yang dialami oleh kaum perempuan.” Ujar Prof Rabina Yunus saat menyampaikan pidato Penerimaan Jabatan Guru Besar di bidang Ilmu Pemerintahan yang berlangsung di ruang Senat Universitas Hasanuddin, Selasa (18/9/2018).

Menurut Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Gender dan Kependudukan (P3KG) Unhas ini, persoalan kemiskinan di Indonesia sangat terkait dengan dinamika isu gender yang ada di tanah air. Menurutnya, persoalan kemiskinan perempuan lebih kompleks dan kronis dibandingkan yang dihadapi laki-laki.

Kemiskinan yang dialami perempuan, kata Prof Rabina, menggambarkan adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam soal akses, yaitu akses perempuan terhadap pekerjaan, upah yang sama, aset produktif, perlindungan hukum, layanan kesehatan reproduksi, pendidikan, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan, beban kerja, dan akses politik.

Untuk itu kata Prof Rabina Yunus, upaya penyusunan strategi kebijakan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan sudah seharusnya memasukkan perspektif gender yang tidak saja menempatkan kesetaraan sebagai titik sentralnya melainkan juga menekankan bahwa persoalan yang dihadapi perempuan seringkali lebih kompleks dibandingkan laki-laki.

Menurut Prof. Rabina, sejak awal proses penyusunan kebijakan hingga implementasi strategi kebijakan pengentasan kemiskinan harus dilakukan dengan kesadaran bahwa kemiskinan kaum perempuan memerlukan strategi kebijakan yang lebih sesuai dengan konteks dan permasalahannya.

“Tanpa menempatkan pemahaman tentang masalah yang khas dihadapi perempuan serta kurangnya pelibatan mereka maka program pengentasan kemiskinan tidak bisa menjangkau masalah permasalahan mendasar yang melanda perempuan Indonesia, “ tandas Prof Rabina dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya yang berjudul Meletakkan Perspektif Gender Dalam Strategi Kebijakan Pemerintah Pada Upaya Pengentasan Kemiskinan.

Pidato Pengukuhan Guru Besar, Guru Besar Unhas, Prof Rabina Yunus
Prof.Dr Rabina Yunus menandatangani Berita Acara Penerimaan Guru Besar Ilmu Pemerintahan Fisip Unhas yang berlangsung di Ruang Senat Akademik Unhas, Selasa (18/9/2018) | Merahnews.com – Humas Unhas

Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu merasa bahagia atas pengukuhan Prof Rabina Yunus sebagai Guru Besar Unhas yang ke-387 karena jumlah dosen penerima jabatan guru besar makin bertambah. Ia berharap, penambahan jumlah guru besar tersebut akan meningkatkan kontribusi Unhas terhadap pengentasan persoalan yang dihadapi Indonesia.

Menurut Prof Dwia, penerimaan jabatan profesor menunjukkan adanya tambahan tanggung jawab untuk terus berbuat dan berkarya untuk kemajuan bangsa dan negeri ini. Sehingga, acara pengukuhan guru besar tersebut bukanlah akhir dari tugas dan tanggung jawab seorang dosen.

“Sebenarnya dalam pengukuhan guru besar ini ada kegembiraan tapi di sisi lain ada tanggung jawab. Namanya guru besar, jadi tanggung jawabnya lebih besar lagi,” ucap Prof Dwia.

Rektor Unhas menambahkan pihaknya akan terus meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki Unhas. Pencapaian Unhas sebagai perguruan tinggi yang memiliki rangking tertinggi dalam SDM diharapkan bisa mendorong Unhas menghasilkan kualitas lulusan yang terbaik.

“Tahun ini kita naik rangking lagi di posisi kedelapan, yang dinilai dari SDM, kelembagaan, penelitian, kemahasiswaan, dan sebagainya. Untuk rangking SDM kita rangking teratas, nomor satu di Indonesia. Ukurannya karena kita melahirkan banyak guru besar, tata kelola SDM yang baik, penjenjangan karir ditata dengan baik, dan lainnya, “ ujar Prof Dwia.

Pengukuhan Prof. Dr. Rabina Yunus, M.Si dihadiri Rektor Unhas, Ketua Senat Akademik, Ketua Dewan Profesor, jajaran anggota senat Universitas Hasanuddin, civitas akademika dan tamu undangan. Merahnews.com | MMM