DOAMU: Kisah-kisah dari Kedai Ruby

oleh
Pasangan DOAMU pemenang Pilkada Sidrap. Foto: Facebook Achmad Jafar.

MERAHNEWS.COM | OPINI –Sebelum kisah-kisah ini diceritakan, Saya perlu sampaikan posisi pada Pilkada Sidenreng Rappang (Sidrap) adalah netral.  Alasannya sederhana, Saya ASN dan ber-KTP Makassar atau bukan Pemilih. Alasan lebih personal, Saya pernah menjadi bagian dari RIDHO 10 tahun lalu Ring 37 (Tim Hore). Saya tidak ingin merusak memory itu.

Tapi harus diakui, saat kontestasi berlangsung Saya lebih banyak berinteraksi dengan sahabat yang berada di kubu calon Bupati/Wakil Bupati Sidrap H. Dollah Mando dan H. Mahmud Yusuf (DOAMU). Di kubu Hj. Fatmawati Rusdi – H. Abdul Majid (FATMA),  banyak juga teman sepermainan. Sayangnya Saya tidak pernah bertemu mereka sehingga Saya tidak memiliki perspektif untuk diceritakan.

Pertautan dengan sahabat di kubu DOAMU, Kebetulan kami memiliki kecanduan yang sama yaitu kopi.  Dari mereka, Saya mendengar kisah-kisah menarik untuk diceritakan dan ditulis agar terdokumentasi.

Baik, kisah-kisah ini berasal dari warung kopi “Kedai Ruby” berjarak 100 meter dari rumah ibuku di Pangkajene Sidrap. Setiap pulang kampung, Kedai Ruby menjadi rumah keduaku.  Mungkin Saya sudah teracuni sifat adiktif kafein, setiap warung kopi menjadi rumah singgahku.

Di kedai ini, Saya bertemu banyak sahabat lama seperti Achmad Jafar,  Antar Begawan, Mukti  dan lainnya. Mereka Tim Sukses (Timses) Posko Induk DOAMU. Kata mereka, Kedai Ruby tempat mereka melepas lelah dan berbagi cerita sesama Timses pada malam harinya, setelah seharian menjelajahi setiap inci tanah Nene Mallomo sosialisasikan pasangan DOAMU.

Dari sahabat-sahabat ini, Saya bisa mengenal beberapa tokoh masyarakat Sidrap yang selama ini hanya mengenalnya melalui pemberitaan dan media sosial seperti Mantan Ketua DPRD Andi Sukri Baharman, Ketua DPC Demokrat  Andi Ihsan Tanri, Sekretaris Timses Haris Mannan, dan tokoh lainnya. Di kedai ini pula, pertama kalinya bertemu langsung Pak H. Mahmud Yusuf calon Wakil Bupati DOAMU saat itu.

Di kedai ini, Sang Wakil Bupati Sidrap terpilih sempat menghibur pengunjung dengan lantunan lagu Bugis-Makassar.  Katanya, lagu Bugis-Makassar menjadi obat pelepas rindu kampung halaman saat berada di tanah rantauan.

Begitu seringnya ke Kedai Ruby dan mengobrol lepas dengan para sahabat ini, kata DOAMU menjadi akrab. Ibarat kopi, Saya bisa mengenali aroma DOAMU dari jauh, meski Saya tidak pernah masuk dapur dan mengintip racikan mereka.

Dari obrolan-obrolan mereka, DOAMU dimaknai secara filosofis sebagai Harapan Baru (New Hope). Di mata para sahabat ini, Figur DOAMU adalah MEREKA. Itulah menjadi energi pribadi-pribadi sederhana menjadi pribadi militan. Mereka berjuang seakan berjuang untuk dirinya. Setiap acara (kampanye) semua merasa menjadi tuan rumah.  Situasi ini menumbuhkan rasa memiliki (senseofbelonging).

Dikisahkan, ketika pelatihan saksi DOAMU di bulan puasa,pemilik hotel memperlihatkan secarik kertas (Billing) biaya pelatihan (Makan-minum, sewa gedung dan kamar hotel) kepada Timses. Salah seorang timses meminta pemilik hotel untuk tidak memperlihatkan dulu nota tagihan itu pada Pak Dollah Mando. Tujuannya agar konsentrasi Calon Bupati tidak terganggu persoalan teknis. Pemilik hotel hanya tersenyum dan berkata: “Biaya ini saya tanggung, inimi sumbanganku ke Pak Dollah”. Spontan timses mengucapkan “Alhamdulillah”.

Kisahnya dilanjutkan, di saat yang sama dengan pelatihan saksi. Timses masih berpikir tentang biaya mobilisasi dan logistik saksi di TPS. Anggaran yang disediakan pasangan DOAMU jauh dari kata cukup. Entah siapa yang menyebarkan info kekurangan ini, relawan 340 komunitas bersedia menanggung biaya itu masing-masing di wilayah mereka. Kata salah satu sahabat “Semua dimudahkan ini berkah ramadhan”.

Kisah menarik lainnya, saat kampanye Akbar di Lapangan Andi Takko Tanru Tedong.  Massa DOAMU kelihatan tidak banyak. Dari foto-foto beredar, lapangan hanya terisi setengah. Apakah massa yang hadir memang sedikit?

Ceritanya seperti ini, lapangan tidak terisi penuh karena massa tertahan di rumah-rumah warga seputaran lapangan.  Ketika warga mengetahui DOAMU memilih Lapangan Andi Takko sebagai lokasi kampanye akbar, warga menyiapkan dirinya seperti akan kedatangan tamu. Warga secara sukarela menyediakan air mineral, kopi, teh, burasa, dan aneka makanan lainnya. Karena keasyikan, massa kampanye lupa berkumpul di lapangan mendengar orasi calon pemimpin pujaannya.

Bagaimana hasil elektoral DOAMU di TPS-TPS di sekitar lokasi kampanye akbar ini? Sudah bisa ditebak, DOAMU keluar sebagai pemenang.

Kisah survei elektabilitas lebih seru lagi, medio April PT. IPI  melakukan survei internal untuk kepentingan DOAMU. Hasil survei ini tidak dipublikasikan untuk umum. Beruntung bertemu secara tidak sengaja dengan Direktur PT. IPI Suwadi Idris Amir, dari obrolan dengan beliau  hasil survei itu akhirnya Saya ketahui  FATMA (46%)  dan DOAMU (38%). Menurut Suwadi, meski menang disurvei, Strong Voters FATMA lebih rendah dibanding Strong Voters DOAMU.

Beberapa minggu kemudian, CPI-LSI melakukan Survei pada tanggal 10-14 Mei  dan dipublikasikan, FATMA (37,5) dan DOAMU (33,6). Lagi-lagi FATMA unggul. Saya minta tanggapan Suwadi tentang survei ini.Menurutnya untuk ukuran Calon Bupati yang diusung Petahana, 37% angka sangat tidak aman.

Survei terakhir yang keluar, survei yang digelar PT Pedoman Suara Indonesia (PSI), menempatkan elektabilitas FATMA (53,3%) dan DOAMU (40,2%) atau selisih sekitar 13 persen. Survei ini lakukan pada bulan puasa mendekati lebaran dari tanggal 2 – 10 Juni. Survei dipublikasi di media pada tanggal 22 Juni sehari sebelum kampanye akbar FATMA yang dipadati puluhan ribu massa.

Jika dibaca dengan pendekatan komparatif, survei FATMA tinggi berbanding lurus dengan massa kampanye akbar yang hadir. Momentum bulan puasa sudah dimanfaatkan kubu FATMA dengan baik. Berbagai aktivitas keagamaan yang dilakukan menjadi bahan pertimbangan undecided voters akan memilih FATMA.

Tentu lebih baik jika data survei tersebut didiskusikan lebih jauh. Saya konfirmasi hasil survei PT. PSI ini ke salah satu Timses DOAMU,Antar Begawan.  Menurutnya data survei itu berbanding terbalik dengan data mereka. Katanya lebih jauh, berbicara survei beberapa hari menjelang hari pencoblosan sudah tidak relevan lagi. Tim  DOAMU melangkah pada fase scanning DPT dengan memeriksa nama-nama pemilih. Hasilnya DOAMU di angka 54%. Mereka berkeyakinan DOAMU menang di angka selisih 8-12,5%.

Belakangan Saya baru bertemu surveyor PT. PSI saat perhitungan Real Count Pilkada serentak. Saya sempat menanyakan hasil surveinya yang berbeda jauh dengan Real Count. Katanya angka survei itu memang seperti itu, tapi strong voters FATMA sangat rendah. Selain itu banyak blunder di minggu terakhir yang meningkatkan swing voters ke DOAMU.

Selain data-data survei tersebut, saya memiliki perspektif lainnya. Suatu waktu Saya bertemu salah seorang kepala daerah, menurut beliau DOAMU unggul 5% dari FATMA. Datanya berasal dari lembaga survei yang mendampingi calon gubernur. Beliau meyakinkan datanya lebih bisa dipercaya karena lembaga survei tersebut tidak memiliki kepentingan dengan dua pasangan calon di Sidrap.

Seminggu kemudian, sekitar pukul 02 dini hari, Sang Kepala Daerah mengirimkan WA hasil survei terbaru hasilnya FATMA (20%) dan DOAMU (21%). Menurut beliau, fenomena ini aneh. Di saat hari H bersisa sebulan, angka pemilih belum menentukan pilihan (Undecided Voters) sangat tinggi di atas angka 50%.

Menurut pengalaman beliau, harusnya angka sudah di bawah 10%. Analisa melihat fenomena ini bahwa ada kekompakan bersama dari warga Sidrap untuk menutupi pilihannya sebagai upaya sadar masyarakat menjaga harmoni yang mulai terbelah.

Saya kemudian teringat perjalanan ke pelosok Sidrap, melayat keluarga meninggal dunia. Saat itu sempat bertanya pada beberapa warga yang ikut melayat terkait pilihan mereka. Sebagian besar tidak menyatakan secara terbuka pilihannya. Saya kemudian bertanya fenomena di desa itu, bahwa hampir semua rumah telah terpasang gambar salah satu pasangan calon (Dicap). Kata mereka, gambar itu bukan jaminan pemilik rumah memilih gambar itu.

Di lain kesempatan, Saya kembali ke Makassar dengan kendaraan umum di subuh hari. Salah satu penumpang dijemput di dekat Kodim. Penumpang bergelar Hajjah dan profesi sebagai pedagang pakaian impor. Saat istirahat di warung makan daerah Pangkep, Saya iseng bertanya ke ibu itu kepastian pilihannya sesuai gambar paslon di teras rumahnya. Katanya Dia memiliki pilihan lain, gambar yang terpasang di rumahnya atas permintaan ponakannya.

Pengalaman ini Saya bagi ke sahabat di Kedai Ruby. Kata mereka, fenomena seperti itu banyak terjadi bahkan keluarga mereka sendiri melakukan hal yang sama. Kata salah satu sahabat, tidak apa-apa perahunya dipakai tetangga, penumpangnya sama DOAMU.

Dari beragam data ini, Saya bisa membaca bahwa sebagian warga Sidrap sampai hari-hari terakhir belum menentukan pilihannya. Bahkan yang sudah menentukan pilihannya masih ragu atas pilihannya tersebut. Akumulasi  peristiwa membuat pemilih akhirnya memutuskan pilihannya dengan hasil akhirnya seperti ini: FATMA sebanyak 67.470 suara (38,98 %), sementara DOAMU sebanyak 105.621 suara (61,02%).

Terakhir yang harus dikisahkan, ini terkait dengan kondisi ikatan sosial masyarakat.  Para relawan DOAMU yang menjaga masing-masing wilayahnya dari gangguan keamanan dan ketertiban (Serangan Fajar). Tiap rumah mengawasi tetangganya, tiap keluarga mengawasi keluarga sendiri.  Kasus di Dusun Pujo Desa Bulucenrana, pelaku money politiditangkap keluarganya sendiri.  Sungguh sedih mendengar cerita ini, politik telah melunturkan perekat sosial paling kuat yaitu kekeluargaan.

Banyak sekali kisah-kisah serupa seperti ini. Bisa dikatakan, “Mungkin” DOAMU bentuk nyata gotong royong dalam politik. Meski Saya tetap berkeyakinan bahwa segala biaya kontestasi ini masih dominan dipikul dan ditanggung Dollah Mando dan Mahmud Yusuf, tapi minimal fenomena ini bertanda baik bagi demokrasi. Seorang calon pemimpin dibiayai oleh masyarakat, antitesis dari membeli suara (money politic).

Sebagai bagian dari keluarga besar Sidrap,Saya berharap dua figur yang Saya hormati Bapak H. Rusdi Masse dan Bapak H. Dollah Mando kembali berangkulan, sebagaimana rangkulan ketika RIDHO diumumkan sebagai pemenang berdasarkan hasil Quick Count 10 tahun lalu. Semoga.*

– Masri Tajuddin Ros (Penulis adalah pemerhati politik. Tinggal di Makassar).

MERAHNEWS.COM|WAHYUCH