Opini: Matematika Politik

oleh
(Sumber: ipolitisc.ca)
(Sumber: ipolitisc.ca)

MERAHNEWS – Angka-angka politik tidak pernah linear. Jika diasumsikan bupati dari Golkar, maka Golkar akan menjadi pemenang Pilgub. Asumsi seperti ini kekeliruan berpikir akut. Mari membaca angka.

Di Wajo, Bupatinya adalah Ketua Golkar. Jika asumsinya linear maka Barakka harusnya menang. Selain diusung Golkar, Dokter Baso calon bupati juga menantu bupati. Nyatanya Pak Amran (Pammase) yang menang.

Di Sinjai, Bupati Sabirin Yahya adalah Ketua Demokrat sekaligus calon bupati petahana. Angkanya, Demokrat tidak menang di Pileg bahkan bupati pun harus kalah pada Pilkada 2018 dari Andi Seto anak mantan Bupati sekaligus menantu Nurdin Halid. Ironisnya untuk Pilgub justru Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaeman keluar sebagai pemenang di daerah ini.

Di Toraja dan Toraja Utara, dua Pilgub sebelumnya dimenangkan oleh SAYANG (SYL-AAN) dengan telak di atas angka 80%. Jika angka harus linear, harusnya suara terpolarisasi ke IYL dan AAN. Justru NA-SS yang tidak memiliki histori dengan 2 daerah ini yang menang telak.

Di Pare-Pare, Walikota Taufan Pawe adalah Ketua Golkar head to head dengan Wakil Walikota Andi Faisal Sapada, kader utama Nasdem dalam kontestasi Pilwali. Dua calon dari partai pengusung Nurdin Halid. Jika berpikir linear harusnya 100% suara ke Nurdin Halid. Lagi-lagi NA-SS menang di kota ini.

Di Takalar, kampung halaman Pak IYL. Sejarah pemilihan langsung baik Pileg, Pilbup, Pilgub, dan Pilpres di daerah ini, setiap usungan Klan Yasin Limpo selalu menang. Kembali NA-SS mengambil suara terbanyak di daerah ini.

Di Sidrap, basis utama Golkar dan Nasdem pengusung Nurdin Halid, bupati Rusdi Masse, Ketua DPD Partai Nasdem Sulsel (Mantan Ketua Golkar) dan Ketua DPRD Sidrap Ketua DPC Golkar. Harusnya NH menang telak di daerah ini. Realitasnya NA-SS menguasai semua kecamatan.

Di Sidrap, angka-angka memang ajaib. Misalnya di Desa Tanete, Allekuang, dan Teteaji merupakan basis suara umat Islam. Saat Orde Baru, 3 desa ini selalu dimenangkan PPP. Saat reformasi pun angkanya untuk “partai hijau” tetap solid. Tak heran Azis Qahar Muzakkar sebagai calon senator yang identik dengan figur religius selalu meraih suara terbanyak. Anehnya saat Pilgub barusan, angka-angka itu hilang. Padahal Azis calon wakil dari NH. Lebih ajaib lagi, Fatmawati yang memiliki semua resources untuk menang pemilihan bupati Sidrap ternyata hasilnya jauh dari prediksi angka statistik.

Bagaimana dengan daerah Luwu Raya? Nama besar Qahar Musakkar masih sulit tergantikan. Dua anak beliau yang maju sebagai cawagub membagi rata kemenangan di daerah ini. Andi Muzakkar menang di Luwu dan Palopo dan Azis menang di Lutra dan Lutim. Meski demikian NA-SS tetap meraih suara cukup signifikan.

Memahami angka-angka di atas, ada baiknya kembali pada makna frasa dalam bahasa latin “Vox Populi, Vox Dei” yang berarti “Suara Rakyat, Suara Tuhan”. Siapa yang bisa mengintervensi Tuhan?

Begitulah yang terjadi di Soppeng, suara rakyat tidak satu pun figur bisa mengintervensi. Padahal sejatinya Bupati Soppeng telah berupaya memenangkan NH melalui partai dan orang dekat beliau. Hal ini bisa dilihat dari lalu lintas media sosial padat dengan iklan NH yang dikirim pengurus Golkar dan orang dekat Bupati.

Realitasnya, rakyat Soppeng memilih berbaris mengatur dirinya sendiri tanpa komando. Mereka tetap menghormati bupati dengan memberi kemenangan telak untuk NH di TPS Bupati. Kemudian TPS-TPS lainnya mereka memberi kemenangan NA-SS, karna bagi mereka pemilihan bupati dan pemilihan gubernur beda adanya.

Saya tidak mengetahui apa yang terjadi. Tapi menyalahkan bupati Soppeng atas kekalahan tersebut, menurutku sebuah kesimpulan keliru.

Karena angka-angka di atas tidak bisa dibaca dengan metode matematika aritmetika sederhana. Seperti melihat angka 1, 2, 3 maka kita bisa menebak angka selanjutnya 4. Atau membaca angka 2,4,6 maka kita bisa pastikan angka berikutnya 8. Matematika politik sangat kompleks, banyak variabel mempengaruhi setiap fenomena.

Mungkin model matematika yang bisa mendekati kebenaran dalam membaca fenomena politik adalah -Persamaan diferensial Parsial Non linear-, matematika menggunakan angka-angka imajiner Jhon Nash dari Princeton University Peraih hadiah Nobel matematika tahun 1994.

Apa itu matematika -Persamaan Diferensial Parsial Non linear? jangan tanya saya, tanyalah ke ahlinya. Saya hanya membaca bahwa matematika itu ikut berkontribusi atas kemajuan dalam bidang ekonomi, komputer, biologi evolusioner, kecerdasan buatan, akuntansi, politik, dan teori militer.

Jika ingin mengetahui sedikit matematika ini, silahkan download film “A Beautiful Mind” yang menceritakan kisah sang Matematikawan Jhon Nash. Satu kalimat filosofis menarik untuk direnungkan dalam sambutannya ketika menerima Nobel Prize:

“Aku selalu percaya kepada angka. Di dalam persamaan dan logika, yang mengarah kepada alasan. Tetapi setelah pencarian seumur hidup seperti itu, aku bertanya apa sesungguhnya logika itu? Siapa yang memutuskan alasan? Pencarianku telah membawaku melalui fisik, metafisik, khayalan, dan kembali. Dan aku telah membuat penemuan terpenting dalam karierku. Penemuan paling penting dalam hidupku, hanya ada di dalam kemisteriusan persamaan cinta, sehingga alasan logis dapat diterapkan. Aku semata-mata di sini malam ini karenamu. Kaulah alasanku. Kaulah (isteriku) semua alasanku. Terima kasih.”

Angka selalu menjadi misteri, kata Jhon Nash. Satu-satunya yang pasti adalah cinta. Untuk itu, jika angka membuat kita resah, kembalilah ke Istri (Pasangan). Karena pasangan adalah angka yang sesungguhnya.

Notes :

Saya lahir dari orang tua loyalis Golkar. Bahkan ketika ditawari sebagai ketua PAN saat awal reformasi, bapakku memilih tetap loyal ke Golkar.

Sebagai bagian dari keluarga besar Golkar, saya berharap DPD Golkar segera melakukan konsolidasi internal menghadapi tahun politik 2019. Evaluasi penting tapi tidak boleh dengan ancaman, sebab situasi yang meresahkan akan kontra produktif.

Meski pejuang tidak menang perang, namanya akan tetap dikenang. Hormatku Untuk Pak Nurdin Halid. *

Penulis: Masri Tajuddin Ros (Pemerhati masalah politik)

MERAHNEWS.COM | WAHYUCH