, , ,

Paissangan Sumobal Bukti Hebatnya Ilmu Pelayaran Suku Mandar

oleh

Masyarakat Suku Mandar di kenal sebagai pelaut hebat sejak zaman dahulu. Salah satu yang menjadi ciri kehebatan pelaut di wilayah Sulawesi Barat ialah perahu sandeq sebagai alat berlayarnya. Adapun pusat pembuatan dan pusat kebudayaan perahu sandeq berada di Kabupaten Polewali Mandar, tepatnya di Desa Pambusuang dan Desa Karama. Ia adalah sejenis perahu bercadik yang cukup besar ukurannya, yaitu 8-16 m dengan muatan 3-4 ton dan dengan angin yang baik dapat mencapai 15-20 knot atau sekitar 30-40 km.

Paissangan asumombalang (sumobal) ini menjelaskan tentang teknik pelayaran dan navigasi yang digunakan oleh nelayan Mandar dalam mencari ikan yang juga dimanfaatkan oleh para pelaut Mandar dalam mengarungi laut berdasarkan pengalaman nenek moyang mereka.       Berdasarkan data yang diperoleh oleh penulis, nelayan Mandar mengaplikasikan paissangan sumobal dengan melihat kondisi alam dan pengalaman mereka. Sebelum pergi mencari ikan, nelayan akan melihat kenaikan bulan (hilal) dan menghitungnya. Selain itu, tanda baik untuk berlayar menurut pendapat masyarakat setempat adalah saat konda, yaitu saat air laut dalam kondisi tenang, tidak pasang ataupun tidak surut. Konda ditemukan pada saat naiknya bulan kedelapan.

Dalam menentukan arah perahu sandeq, pelaut Mandar menggunakan navigasi dengan melihat bintang jika di malam hari. Sedangkan pada siang hari, mereka memanfaatkan matahari ataupun suara gelombang. Penentuan arah dengan melihat bintang, yaitu ketika dilangit bentuk rasi bintang adalah tujuh maka ia menunjukkan arah angin tenggara. Untuk menentukan arah selatan, mereka melihat rasi bintang yang orang Mandar menyebutnya boyang kepang. Ada pula sebutan untuk bintang yang menandakan akan masuknya waktu subuh bernama rasi bintang besar atau pengantar matahari.

sulbar, nelayan
Pak Hasan, Nelayan Desa Karama, Polewali Mandar, 06/05/2018. Merahnews.com | Andi Nur Fitrah

Saat mewawancarai Pak Hasan, salah satu nelayan sekaligus pelaut ulung yang ahli dalam melayarkan perahu sandeq pada Ahad, (06/05/2018) berkata “Saya sudah 10 kali tenggelam. Pada saat tenggelam saya berenang dan istirahat dengan cara berpegang pada pinggir perahu. Jika perahu terbalik di malam hari maka kita harus menunggu hingga matahari terbit untuk memperbaikinya”. Dari keterangan Pak Hasan, ia menjelaskan bahwa pada saat itu perahunya tidak sengaja bertabrakan dengan perahu lain. Sehingga kedua perahu sandeq tersebut tenggelam. Beruntungnya, saat dicek di pagi hari, tiang layar perahu sandeq tidak patah, tetapi yang mengalami kerusakan adalah bagian palatto (penyeimbang yang berada di sebelah kiri dan kanan) perahunya.

Apabila diperhatikan secara seksama, pesan-pesan yang terdapat dalam paissangan sumobal menunjukkan masyarakat mandar memiliki ciri khas keseimbangan, kesederhanaan, keindahan, kecepatan, ketepatan, ketangguhan, keuletan, keberanian, dan kerjasama. Merahnews.com | Andi Nur Fitrah.