Bernalar ala Sang Pakar

oleh

MERAHNEWS.COM – Siapa yang tak kenal Sherlock Holmes? Yap, tokoh fiksi garapan Sir Arthur Conan Doyle ini merupakan tokoh detektif yang dikenal sangat jenius, keren, dan tidak diduga-duga—dibumbui dengan tampang arogannya. Serial Sherlock Holmes ini tidak hanya dikenalkan Conan Doyle melalui novel, tetapi juga lewat serial drama, film layar lebar, bahkan aplikasi game hingga sebuah museum di Baker Street, London.

Satu hal yang menjadi alasan utama netizen mencintai tokoh ini karena ia mampu menyimpulkan sesuatu hanya dalam sepersekian menit—bahkan detik. Dan menariknya, semua yang ia katakana benar-benar akurat dan sangat tepat. Bagaimana bisa? Jika kalian berfikir Sherlock Holmes jenius Karena mendalami ilmu deduksi, salah besar. Hal tersebut dikenal dengan ilmu penalaran, bukan sekedar ilmu deduksi. Karena, pemikiran-pemikiran Holmes lebih mengarah pada pembuktian ilmiah disbanding pembuktian matematika. Ragam kasus yang diapecahkan lebih menggunakan hukum-hukum alam, bukan murni matematika. Jadi, penarikan kesimpulan yang biasa dilakukan Holmes tidak murni menggunakan metode deduksi. Ada pula metode induktif didalamnya. Begitulah yang dipaparkan Wisnu; pengisi suara Matematika dan Fisika di Zenius Education dalam blognya wisnuops.net.

Oke, mari kita bahas lebih spesifik. Dikutip dari Wikipedia, penalaran adalah proses berpikir melalui pengamatan lalu menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Nah, melalui pengamatan, terdapat sejumlah proposisi (pernyataan) yang diketahui atau dianggap benar. Melalui itu, dapat disimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar, dimana pernyataan yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi, dan pada akhirnya menggambarkan konsekuensi.
Dalambernalar, terdapat dua metode. Disinilah terlihat jelas perbedaan antara metode induktif dan deduktif, tetapi kedua metode bisa saling melengkapi.

Pertama, metode induktif. Metode ini memiliki tiga jenis, yaitu generalisasi, analogi, dan sebab-akibat. Dalam generalisasi, pengambilan kesimpulan dilakukan berdasar fakta-fakta yang umum terjadi. Contohnya, dalam kasus mutilasi tahun 2001, 2002, dan 2003 diidentifikasi bahwa korban adalah seorang yang introvert. Dipastikan bahwa 2004 kasus mutilasi akan memakan korban yang berkelakuan sama. Sedangkan menurut perspektif analogi, pengambilan kesimpulan didasarkan pada fakta peristiwa lain secara khusus. Artinya, banyak hal yang terjadi karena sebab-sebab yang sama dari kejadian sebelumnya. Seperti yang dikatakan Holmes kepada Lestrade—polisi Scotland Yard yang selalu dibangga-banggakan—“Pelajarilah kasus dalam satu abad ini! Tidak ada hal yang baru, semua pernah terjadi.”

Terakhir, jenis sebab-akibat, yaitu jenis metode induktif yang menyimpulkan berdasar hokum alam: setiap sebab pasti menghasilkan akibat. Contohnya, jika korban pembunuhan tewas karena keracunan makanan, akibatnya akan nampak bercak atau tanda pada tubuhnya ketika melakukan otopsi. Beralih pada metode deduktif, yaitu proses mengumpulkan fakta untuk mencapai kesimpulan logis. Menurut Wisnu, karena deduktif merupakan system tertutup—kesimpulan diambil hanya berdasar pada fakta yang kita kumpul—, semua hal bersifat pasti. Setiap kesimpulan yang diambil dari penalaran deduksi adalah konsekuensi logis dari fakta-fakta yang diketahui. Itulah mengapa matematika disebut ilmu pasti, karena menggunakan metode ini. Namun, dalam dunia detektif, terdapat dua jenis pengambilan kesimpulan; Silogisme dan hokum Ponens & Tollens. Dalam silogisme, terdapat dua premis (umum dan khusus) untuk menarik satu kesimpulan. Misalnya, premis umum menjelaskan bahwa semua yang hidup pasti mati. Premis khususnya, Sherlock adalah makhluk hidup. Jadi dapat disimpulkan bahwa Sherlock pasti mati.

Berbeda dengan silogisme, hokum Ponens & Tollens menarik kesimpulan melalui metode eliminasi. Misalnya, dalam suatu kasus terdapat korban yang tewas karena kehabisan darah. Faktanya, kehabisan darah disebabkan oleh penggunaan senjata tajam. Hal yang perlu dieliminasi disini adalah senjata jenis apa yang digunakan; Apakah pisau, cutter, atau sejenisnya.
Kedua metode dalam penalaran ini sama bergunanya untuk mengambil kesimpulan dan belajar menjadi pakar dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk itu, perlu wawasan yang luas serta focus dalam bernalar. Jangan malas bertanya, bersikap open-minded, dan membangun istana pikiran melalui catatan dan mind-maps juga dapat membantu otak kita untuk bernalar dengan baik. Dan yang terpenting, seperti yang selalu diucapkan Sherlock Holmes; Jangan sekedar melihat, tetapi amati.
Sebab, bernalar tidak mutlak hanya untuk para pakar dan detektif. Semua orang pasti bisa! MERAHNEWS.COM | Andi Feninda Amalia Syahbani/Siti Lestari Rahmadani