Jurnal Perempuan Gelar Diskusi “Feminisme dan Cinta”

oleh
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Ery Iswari | Foto: IG Pribadi

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR – Menyambut Hari Perempuan International atau lebih dikenal dengan International Women Day (IWD), Jurnal Perempuan menggelar diskusi dengan tajuk “Feminisme dan Cinta” di Gedung Ipteks Unhas, Kamis (1/3/2018).

Seminar ini menghadirkan 3 (tiga)  pembicara, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Ery Iswari, Penulis JP 96 & Redaksi Jurnal Perempuan, Naufaluddin Ismail  dan Direktur Eksekutif LBH Apik Makassar, Rosmiati Sain. Ery Iswary membawakan materi  “representasi cinta dalam karya sastra”. Sementara  Naufaluddin Ismail membawakan materi “Relasi Patriarki, subordinasi dan glorifikasi pernikahan : dilema perempuan lintas generasi dalam menjalani dan memaknai cinta”. Adapun Rosmiati Sain membahas tentang “Kekerasan dalam pacaran: upaya perlindungan hukum dan menumbuhkan kesadaran masyarakat”

 

Diskusi terkait Feminisme dan Cinta yang diawali dengan tari Padduppa oleh serikat pecinta seni dari fakultas sastra dan ilmu budaya ini dihadiri oleh berbagai kalangan, baik dari mahasiswa, pegiat gender, dosen, serta masyarakat secara umum.

Seminar Feminisme dan Cinta, Ery Iswari, Jurnal Perempuan,
Suasana Seminar Feminisme dan Cinta yang berlangsung di gedung IPTEKS Unhas, Kamis (1/3/2018) | Merahnews.com – Ukhwani Ramadani

Antike Nova Sigiro, M.Sc selaku Direktur Eksekutif yayasan jurnal perempuan dalam sambutannya mengatakan bahwa diskusi ini lahir untuk memperkenalkan salah satu Jurnal Perempuan edisi 96 yang merupakan telaah kritis atas konstruksi sosial yang menganggap bahwa cinta diidentikkan dengan romantisme.

“Cinta bukan sebatas hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan, karena sejak lahir kita sudah bersentuhan dengan yang namanya cinta.” Tuturnya.

Jurnal Perempuan edisi 96 ini Ingin memfokuskan cerita kepada kaum muda sebab kaum muda adalah motor perubahan yang akan melahirkan nilai cinta yang positif membebaskan, tidak membatasi, dan menindas bahkan menghantui.

Sementara itu, pembicara pertama dalam diskusi ini, Ery Iswari  mengungkap  bahwa ekspresi romantisme cinta saat ini telah bergeser dari nilai-nilai budaya Makassar di masa lalu.

“Di Makassar pada zaman dulu ekspresi cinta antara laki-laki dilakukan dengan action (bukti) bukan speech, berbeda dengan saat ini kaum muda cenderung lebih senang mengungkapkan dengan I Love You, contohnya pada hari valentine, bukan hari kasih sayang yang harus kita peringati, tpi kita harus mengekspresikan kasih sayang setiap hari.” Ujarnya.

Di akhir materinya Ery Iswari, mengungkapkan Filosofi cinta sebagai berikut;
“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tdak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.”

Diskusi berlangsung sangat interaktif yang dibuktikan dengan  banyaknya pertanyaan dari peserta.

Dalam prosesi tanya jawab salah satu peserta yang juga seorang pendeta mengungkapkan, kekerasan yang terjadi dalam cinta terjadi karena pergeseran dalam memahami nilai-nilai agama.

“Tuhan adalah gambaran cinta yang sejati, cara mengantisipasi adalah kembalikan pendidikan agama dan keluarga.” Ujar sang peserta. Merahnews.com | Ukhwani Ramadani.