,

Menggagas Ekosistem Kebudayaan

oleh -176 views
Kebudayaan, Pemajuan Kebudayaan, Kongres Kebudayaan Indonesia ke-100, Prof Pawennari Hijang
Antropolog Fisip Unhas, Prof.Dr Pawennari Hijang

Catatan Workshop Menuju Kongres Kebudayaan Indonesia Ke-100, Jakarta

Oleh: Pawennari Hijang

Sejak kemarin hingga hari ini, Sabtu (24/2/2018) berlangsung Workshop Menuju Kongres Kebudayaan Indonesia ke-100 yang berlangsung di Hotel Milenium Jakarta. Workshop ini antara lain mendiskusikan 10 obyek pemajuan kebudayaan dengan cara menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan.

Dalam pasal 43 dan 44 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dinyatakan bahwa dalam memajukan kebudayaan Pemerintah Pusat dan Daerah bertugas “menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan yg berkelanjutan”.

Pendekatan ini yang seyogianya dipakai dalam menjalankan mandat pemajuan kebudayaan, yaitu menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan. Namun, sebelum menjabarkan pengertian ekosistem dalam rangka UU No. 5/2017, perlu lebih awal dipahami pengertian ekosistem kebudayaan dan menurut riwayat diskusi seputar permasalahan itu dalam khazanah pengelolaan kebudayaan di tingkat dunia.

Dalam ilmu biologi yang merupakan disiplin asal yang melahirkan istilah ekosistem, umumnya memaknai ekosistem sebagai tata interaksi yang saling menunjang antar berbagai makhluk hidup dan unsur tak hidup dalam sebuah lingkungan. Inti yang mencirikan suatu ekosistem adalah pola hubungan antar unsur yang saling menunjang dan terjadi dalam suatu lingkup teritorial tertentu.

Mengambil perumpamaan dari ilmu biologi, kita dapat mengartikan ekosistem kebudayaan atau ekosistem obyek pemajuan kebudayaan (dua istilah yang sama sama dipakai dalam UU No. 5/2017) sebagai tata interaksi yang saling menunjang antarpelaku, peserta, lingkungan alam dan obyek obyek pemajuan kebudayaan dalam suatu kawasan tertentu.

Bila memperhatikan dengan cermat pada wacana tentang ekosistem kebudayaan di tingkat dunia, walaupun UNESCO tidak menggunakan istilah cultural ecosystem dalam dokumen dokumennya, kita dapat menemukan pengertian yang mendekati dalam konsep siklus kebudayaan (culture cycle) yang dicetuskan dalam dokumen The UNESCO Framework for Cultural Statistics (FCS) versi 2009.

Siklus kebudayaan ini terdiri dari lima subsistem;
(1) Kreasi, penciptaam karya seni yang jadi bahan baku industri budaya,
(2) Produksi, perakitan karya seni menjadi komoditas budaya,
(3) Diseminasi, penyebarluasan komoditas budaya untuk diserap pasar,
(4) Ekshibisi/Resepsi/Transmisi, fasilitasi penyerapan pasar atas komoditas budaya, dan
(5) Konsumsi/Partisipasi, penggunaan komoditas budaya oleh pembeli.

Kelima subsistem ini terhubung satu sama lain. Setiap subsistem memberikan rangsangan pada subsistem lain untuk bekerja sehingga mendorong keseluruhan ekosistem untuk bergerak dalam suatu siklus memperbarui diri terus menerus.

Dalam kaitannya dengan sistem klasifikasi berorientasi pendataan yang dimiliknya, UNESCO membandingkan masing-masing subsistem dalam siklus kebudayaan dengan keenam lingkup kebudayaan untuk menghasilkan matriks indikator data statistik kebudayaan.

Gagasan ini kemudian ditangkap dan dikembangkan oleh berbagai berbagai institusi supra nasional yang berusaha menerapkannya untuk merancang pengelolaan kebudayaan di negeri-negeri dalam kawasan tertentu.

Salah satunya adalah visi ekonomi orange untuk menandai sektor ekonomi kreatif yang dicetuskan dalam dokumen The Orange Economy An Infinite Opportunity oleh Inter Amarican Development Bank pada tahun 2013.