OXFORD (catatan perjalanan Prof Sangkala) 2

MERAHNEWS.COM | OXFORD – Menarik untuk dimaknai sistem pembelajaran di kampus-kampus atau departemen, karena kuliahnya bersifat kuliah umum. Mahasiswa datang kuliah dengan peserta yg sangat banyak.

Pertanyaannya pasti tidak efektif karena dipandang bertentangan dengan model kelas SCL yg kita terapkan saat ini. Nyatanya sistemnya berbeda karena di departemen mahasiswa datang kuliah tapi dengan siap bertanya, bukan datang utk menerima kuliah dari dosen. Karena itu dosen di Oxford harus benar-benar siap menerima pertanyaan dan wawasan harus luas.

Memang sistem pendidikan umumnya di Inggris menurut Atase Pendidikan Indonesia di KBRI bapak Prof. Aminuddin, siswa sejak awal dididik utk belajar pada proses dan bukan output semata. Akibatnya anak didik akan selalu pintar berbicara dan menjelaskan mengapa sesuatu demikian, lebih kreatif dan kritis, ditambah lagi mata pelajarannya cuma 3 yakni sains, matematika dan bahasa.

Salah satu College yang berada di Oxford University (merahnews.com)

Mungkin di sistem kita perlu ditambah pelajaran agama sesuai tujuan pendidikan nasional. Mereka kuliah sampai kelas 11 dan ditambah 2 tahun lagi utk memilih 2 mata pelajaram yg mereka senangi. Berangkat dari 2 mata pelajaran yg mereka senangi atau minati dan lulus kemudian jadi dasar masuk perguruan tinggi.

Berbeda sekali dengan di Indonesia, sejumlah mata pelajaran yang seolah-olah anak didik kita menjadi orang serba tahu padahal akhirnya tidak ahli-ahli. Menariknya kuliah di Oxford, justru yang berperan penting adalah para tutor mahasiswa di College masing-masing karena disanalah proses pendalaman dari kuliah di departemen yang bersifat kuliah umum.

Sistem pembelajaran ini dahulunya merupakan adopsi dari universitas Al-Azhar dimana pada siang hari mahasiswa kuliah ilmu pengetahuan dan dimalam hari belajar agama. Jadi mirip pesantren di Indonesia. Namun karena jaman berubah maka di Oxford malam hari digunakan utk memperdalam kuliah yg di berikan dikelas atau di departemen.

Baca  Presiden Jokowi Dorong Ilmuwan Sosial Perbanyak Riset Kebijakan

Kampus Oxford tidak menyatu di dalam satu area tetapi berpencar. Setiap fakultas beda-beda lokasinya. Di Oxford ditunjang oleh college sebanyak 42 buah dgn bangunan sudah berumur ratusan tahun semua.

Salah satu perpustakaan terlengkap di dunia dengan koleksi buku sekitar sejuta lebih berdiri kokoh dengan arsitek tuanya. Oxford ini merupakan salah satu lokasi syuting film-film Harry Potter misalnya kampus, tempat makan dan berbagai cerita dalam film Harry Potter.

Penulis berpose dibelakang perpustakaan Oxford University (merahnews.com)

Semua kampus Oxford merupakan bangunan bersejarah sehingga menjadi tempat pariwisata, sehingga kampus memiliki pemasukan. Setiap pengunjung diharuskan membayar £3, kecuali mahasiswa dan orang yg sudah berusia lanjut usai. Kampus selain memiliki pemasukan setiap hari, juga memiliki donatur dan dana abadi yang trilyunan, ditambah lagi mereka tidak dikenakan pajak pendapatan, sehingga semakin kaya dan mampu membiayai proses perkuliahan degan baik.

Pembayaran yang kuliah sangat mahal dan tentu berbeda-beda setiap program studi. Alumni-alumni Oxford ini dari mulai perdana menteri, menteri, anggota dewan, pengusaha sampai kalangan ningrat. Sehingga banyak menguntungkan kampus Oxford.

Karena sudah sore maka kami bergegas meninggalkan kota Oxford dengan kampusnya yg masih banyak meninggakan misteri karena kejayaannya. Masih bayak yang mestinya digali untuk dipelajari agar kampus kami di Unhas bisa mencontoh yg baik.

Sebelum kami kembali ke London, kami menyempatkan diri sholat di masjid raya Oxford yg sangat luas dan megah yg dibangun oleh masyarakat Pakistan. Di sekitar masjid raya tersebut merupakan wilayah yang bernuansa Islam, karena sepanjang jalan berderet toko-toko dan restauran halal.

Kami menyempatkan diri mencicipi makanan halal di salah satu restauran yang ada di sekitar masjid raya Oxford tersebut. Naik bus dengan tiket yg masih berlaku akhirnya menghantarkan kami ke stasiun untuk menuju kembali ke London.  Sampai jumpa kembali Kota Oxford dan Universitasnya, sepeninggalnya banyak menimbulkan kenangam sekaligus pembelajaran yang masih perlu di gali lebih dalam. merahnews.com | Sangkala