Kelompok Tani Hutan di Luwu Timur Kini Miliki Pabrik Kayu Sendiri

oleh

MERAHNEWS.COM | LUWU TIMUR – Kelompok tani hutan rakyat yang tergabung dalam Unit Manajemen Hutan Rakyat (UMHR) di tujuh kecamatan di Kabupaten Luwu Timur mengadakan Workshop Peran UMHR pada Tata Kelola Industri Kayu.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Si Kumbang Luwu Timur pada tanggal 26-27 Oktober 2017 yang lalu dihadiri 56 orang dari perwakilan masing-masing UMHR, dibuka oleh Naufal Ahmad selaku koordinator program Berdaya Hijau.

Dalam sambutannya Naufal mengingatkan bahwa program Berdaya Hijau adalah satu-satunya program yang difasilitasi oleh Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) yang membangun pabrik kayu berbasis masyarakat.

“Ini kesempatan bagi kita semua untuk membuktikan bahwa masyarakat juga bisa membangun dan mengembangkan industri kayu secara berkelanjutan yang ramah lingkungan,” katanya, Kamis (26/10/2017).

Menurut Naufal, kegiatan workshop ini sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Industri kayu veneer yang sedang dibangun di Tomoni. Pabrik itu sendiri sahamnya sebagian besar dimiliki oleh UMHR yakni 55,8 %.

“Hal Ini membuktikan bahwa pabrik tersebut kelompok tani memiliki posisi penting pada kepemilikan pabrik.”

Pada kesempatan yang sama Muhammad Tahnur selaku PM Industri Program Berdaya Hijau sekaligus Direktur PT. Konsorsium Berdaya Hijau menyampaikan siklus pengelolaan kayu di Industri, mulai tahapan suplay bahan baku, pengolohan kayu, sampai pada limbah industry. Termasuk manajemen industry itu sendiri, seperti rekruitmen tenaga kerja berdasarkan standar kualifikasi yang dibutuhkan dan pemasaran produk veneer yang dihasilkan oleh industri.

Ashar Karateng sebagai Project Advicer dan Jumardi Lanta PM Capacity Building Program Berdaya Hijau yang memfasilitasi kegiatan workshop ini mengajak peserta untuk merumuskan peran-peran UMHR dalam seluruh tahapan tersebut.

Menurut Jumardi, berdasarkan hasil inventarisasi kayu yang telah dilakukan oleh tujuh UMHR, potensi tegakan yang dimiliki petani saat ini bisa diolah sampai enam tahun ke depan berdasarkan kapasitas pabrik yakni 22 m3 perhari.  Untuk itu UMHR akan mengatur siklus suplay kayu berdasarkan jatah tebang yang diatur pada RPHRL (Rencana Pengelolaan Hutan Lestari).

Saat ini masing-masing UMHR juga melakukan pembibitan kayu sengong dan jabon, setiap UMHR yang dikelola oleh UUK (Unit Usaha Kreatif) memiliki 35.000-40.000 bibit yang sudah siap ditanam.

“Ini berarti 5 tahun ke depan kayu tersebut sudah bisa dipanen. Sehingga potensi kayu yang ada sekarang dapat berkesinambungan dengan bibit kayu yang akan ditanam pada November tahun ini.”

Selain itu, peran UMHR dan UUK yang merupakan representasi kelompok perempuan, tidak hanya berperan dalam urusan suplay kayu tetapi bagaimana memanfaatkan limbah industry dan tanaman sela bawa tegakan.  Seperti pengolahan limbah untuk pupuk organic, souvenir, media tanam jamur, dan media budidaya cacing. Sementara tanaman sela yang direncanakan adalah Jahe merah, kunyit, talas jepang, cabe dan beberapa tanaman lain yang sesuai kondisi lahan masyarakat.

Ashar Karateng mengingatkan kembali bahwa peran UMHR ke depan tidak hanya berfungsi menyiapkan bahan baku industry, tetapi bagaimana menjadi enterpreneur yang memiliki jiwa usaha mengembangkan potensi local yang ada.

“Peran pemerintah khususnya OPD (Organisasi Perangkat daerah) yang terkait sangat diharapkan mendukung petani dalam meningkatkan kapasitas mereka mengolah hasil tanaman sela dan limbah industry sehingga memiliki nilai tambah untuk dipasarkan, baik di tingkat lokal maupun regional,” katanya.*

merahnews.com | Wahyuch