Launching dan Diskusi Buku “Mengayuh di Ombak”

oleh
Para Panelis yang turut membantu dalam pembuatan buku "Mengayuh di Ombak" (12/9/2017) -- MERAHNEWS.COM | FIRA ANGGRAENI

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR – Sulawesi Selatan memiliki Panjang Garis Pantai 1.937 km dengan tiga wilayah perairan laut, yaitu: Selat makassar, Laut Flores dan Teluk Bone. Memiliki Potensi sumber daya dengan berbagai permasalahan dalam pemanfaatannya, yang secara administratif berada di 18 wilayah pemerintahan kabupaten/kota.

Untuk menjawab potret permasalahan yang terjadi di daerah pesisir, maka Wahyu Candra memutuskan untuk mengungkap permasalahan tersebut ke dalam sebuah buku yang berjudul “Mengayuh di Ombak”. Buku yang mengungkap potret potensi dan permasalahan laut, pesisir dan pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan tersebut telah di launching pada 12 September 2017 yang dilaksanakan di Hotel Grand Celino.

Launching buku tersebut di hadiri Ir. Sulkaf S. Latief, MM (Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan), Ir. H. Andi Chairil Anwar, MM (Sekertaris Dinas Kelautan dan Perikana Sulawesi Selatan), selain itu hadir pula para panelis yang menjadi narasumber dalam pembuatan buku ini, mereka adalah Saipul Rapi (Manager PT MSI ), Aksan, Sidar, dan Ridwan (Koord. Masyarakat Pengawas).

Sulkaf mengatakan bahwa buku tersebut tidak hanya memperkenalkan satu sudut pandang saja, tapi sangat banyak sudut pandang yang terdapat dalam buku ini.

“pada chapter pertama buku ini membahas tentang budaya, selanjutnya tentang mangrove, dan banyak lagi,” ujar Sulkaf.

Pada kesempatan tersebut, Wahyu menceritakan pengalamannya saat menulis buku tersebut. Pembuatan buku tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.

“dalam pembuatan buku ini saya langsung mendatangi lokasi yang menjadi objek saya. Bukan hanya sekali datang, tapi berkali-kali saya datang ke tempat tersebut untuk mengkajinya lebih dalam, mengklarifikasi, hingga akhirnya dapat di validasi,” ucap sang penulis, Wahyu.

Banyaknya permasalahan yang terjadi di wilayah pesisir kita karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pohon mangrove. Maka dari itu, Aksan salah satu panelis dalam acara launching buku tersebut terus berusaha untuk melakukan rehabilitas pohon mangrove. Rehabilitas pohon mangrove sangat gampang dilakukan namun yang membuatnya sulit adalah masyarakat yang tidak peduli atau kurang pemahaman tentang pohon mangrove. Kemudian, Aksan melakukan pendekatan kepada masyarakat, mulai dari pendekatan persuasif, dan merangkul masyarakat untuk peduli.  Akhirnya, masyarakat mulai melestarikan pohon mangrove.

Berbeda dengan buku-buku lainnya, buku ini menyajikan paparan sederhana dan apa adanya, namum mampu menggambarkan secara terbuka tentang yang ada di wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil kita.

Launchingnya buku ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kita dan masyarakat/pemerintahan lebih peduli terhadap permasalahan yang terjadi di wilayah pesisir. MERAHNEWS.COM | AFNI