Prof Tahir Kasnawi: Taqwa Merupakan Landasan Kesalehan Individu dan Sosial

oleh

MERAHNEWS.COM | MAKASSAR — Hewan-hewan yang dijadikan qurban pada hari ini dan hari-hari tasyrik sesudah ini pada intinya mweupakan symbol yang menunjukkan ketaqwaan kepada Allah SWT sekaligus menifestasi kesyukuran serta kepedulian sosial ata segala kebaikan yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita.

Hal tersebut disampaikan Prof Dr Tahir Kasnawi, SU saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1438H di lapangan masjid Ikhtiar Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea, Jumat(1/9/2017).

Prof Tahir lantas mengutip ayat Alqur’an dalam surah Al Hajj (37) yang artinya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-sekali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”

Idul Adha 1438 H. Perdos Unhas Tamalanrea, Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea
Jamaah Shalat Idul Adha di lapangan Masjid Ikhtiar Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea menyimak secara seksama khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Prof.Dr Tahir Kasnawi, SU, Jumat (1/9/2017). Merahnews,com – Mul

Menurut Guru Besar Sosiologi Fisip Unhas ini, taqwa dengan unsur-unsur nilainya berupa kepatuhan, kepasrahan serta keikhlasan merupakan landasan spiritual fundamental atau diistilahkan dengan Kesalehan Individual.

Kesalehan Individual ini lanjut Prof Tahir, akan menjadi bagian integral kolektivitas sosial atau masyarakatnya yang dapat menebarkan bentuk amal kebajian dan prilaku sosial yang bermanfaat bagi segenap orang yang ada di sekitarnya dan inilah yang disebut sebagai Kesalehan Sosial.

” Rasalullah Muhammad SAW selama 13 tahun di Mekkah lebih fokus pada pemantapan kualitas ketaqwaan ummatnya atau pada pembinaan kesalehan individual” Ujar Prof Tahir.

Wahyu-wahyu yang diturunkan pun selama periode ini didominasi oleh ajaran-ajaran tentang ketaqwaan dan ketauhidan yang tak lain dimaksudkan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan hakiki pada tingkat mikro yaitu nilai-nilai kepatuhan, kepasrahan kepada Tuhan semata-mata.

Sementara pada era 10 tahun berikutnya setelah hijrah ke Madinah, risalah keislaman yang disampaikan Nabiullah Muhammad SAW makin berkembang yang mencakup ajaran tentang tatakelola masyarakat dalam berbagai aspeknya dengan berpedoman pada wahyu yang secara bertahap diturunkan kepadanya.

Ketua Senat Akademik Unhas ini menambahkan, kehidupan masyarakat kota Madinah yang terdiri atas kelompok-kelompok yang majemuk dari segi kepercayaan dan suku dikelola secara adil dan demoratis sehingga menjadi masyarakat yang berkeadaban (Madani) di bawah kepemimpinan Muhammad SAW.

Di era Madanih inilah kata Prof Tahir risalah islam mencapai kesempurnaannya baik dalam ajaran maupun praktiknya melalui keteladaan Rasulullah SAW yang secara intrinsik menggabungkan antara dimensi-dimensi individual dan sosial, dimensi-dimensi spiritual dan material serta dimensi-dimensi ukhrawi dan duniawi. Merahnews.com | Muliadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.